Trending

331 Hektare Sawah di Kabupaten Banjar Terancam Kekeringan dan Gagal Panen

 

KERING : Tanah sawah yang terlihat retak dan mengering karena kekurangan air/foto:Yuanda 

BANUATODAY.COM,BANJAR : Sebanyak 331 hektare sawah di Kabupaten Banjar terancam kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan, kondisi ini bahkan berpotensi membuat gagal panen

Diungkapkan Ahmad salah satu petani di kawasan Martapura Barat, sekarang air sulit didapat dan sangat terbatas karena kemarau yang panjang.

"Sumur di belakang rumah yang biasa digunakan untuk menyiram sawah hanya mampu memasok air dalam waktu singkat,Akibat kekurangan air, sebagian tanaman padinya mulai mengering dan terancam mati,"akunya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan sarana air, seperti sumur bor maupun pompa, agar petani tetap memiliki pasokan air selama musim kemarau.

"Harapan kami ada bantuan sumur bor atau pompa. Kalau kemarau seperti ini kami hanya bisa bertahan semampunya," harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita mengatakan, luas lahan yang terdampak itu merupakan bagian dari sekitar 890 hektare sawah yang baru selesai ditanami pada musim tanam kali ini.

Lahan yang mengalami kekeringan tersebar di Kecamatan Beruntung Baru seluas 160 hektare, Sungai Tabuk 91 hektare, Martapura Barat 30 hektare, Karang Intan 28 hektare, Martapura Kota 21 hektare, dan Astambul 1 hektare.

"Kalau melihat kondisi sekarang, memang ada beberapa desa dan kecamatan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang," ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).

Warsita mengatakan, sejak awal musim kemarau pihaknya telah mengingatkan petani agar mewaspadai potensi kekeringan, dan segera melaporkan lahan yang mulai terdampak sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Sebagai langkah penyelamatan, Dinas Pertanian menyiapkan pompa air untuk didistribusikan ke wilayah terdampak. Pengoperasiannya dilakukan oleh kelompok tani bersama Brigade Pangan.

"Pompa yang tersedia di dinas akan kami distribusikan. Untuk operasionalnya dilakukan oleh petani atau Brigade Pangan," jelasnya.

Selain itu, sekitar 282 unit pompa yang telah dimiliki petani juga siap dimanfaatkan untuk menyuplai air ke lahan yang masih memungkinkan diselamatkan.

Menurut Warsita, hasil pemantauan di sejumlah wilayah, seperti Cintapuri dan Martapura Barat, menunjukkan tanaman padi masih berpeluang diselamatkan karena sebagian saluran irigasi masih menyisakan air.

"Kalau tidak turun hujan memang berpotensi puso atau gagal panen. Namun masih ada sumber air di beberapa saluran sehingga kami mendorong agar segera dilakukan pemompaan supaya tanaman bisa diselamatkan," ujarnya.

Selain melakukan penanganan darurat, Dinas Pertanian juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). 

Tahun ini, kata Warsita, Kabupaten Banjar mendapat target perlindungan seluas 1.500 hektare melalui kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Banjar.

Petani yang lahannya telah terdaftar melalui kelompok tani dan dipastikan mengalami puso setelah proses verifikasi dapat mengajukan klaim asuransi.

"Besaran klaim disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, nilainya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta per hektarenya," kata Warsita.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan upaya penyelamatan tanaman melalui percepatan distribusi pompa air, agar sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air dapat dipertahankan hingga memasuki masa panen.

Karena itulah, ia berharap klaim asuransi dapat menjadi penyangga apabila petani benar-benar mengalami gagal panen.

"Harapannya tentu jangan sampai terjadi puso. Tetapi kalau terjadi, asuransi bisa menjadi modal untuk musim tanam,"pungkasnya(yan/rdh)

Lebih baru Lebih lama