BANUATODAY.COM, BANJARBARU, – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjarbaru terus diwaspadai. Berdasarkan data Laporan Kasus DBD Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru hingga bulan Juli 2026, tercatat sebanyak 35 kasus DBD yang tersebar di sepuluh wilayah kerja puskesmas di Kota Idaman.
Dari total 35 kasus tersebut, Kelurahan Guntung Manggis menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak dengan total 7 kasus, yaitu dua kasus di Januari, dua kasus di Februari, serta masing-masing satu kasus pada Maret, April, dan Mei.
Posisi kedua ditempati oleh Kelurahan Loktabat Utara dengan 6 kasus, disusul Syamsuddin Noor dengan 4 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Banjarbaru, dr. Siti Ningsih menyampaikan bahwa tren fluktuasi kasus DBD terjadi sejak awal tahun dan memuncak pada bulan Mei dengan jumlah 9 kasus dalam sebulan.
"Hingga pertengahan tahun ini, akumulasi kasus DBD berada di angka 35 kasus dengan Incidence Rate sebesar 12,55 per 100.000 penduduk. Alhamdulillah sejauh ini tidak ditemukan kasus kematian atau Case Fatality Rate nol persen, tetapi kesiapsiagaan masyarakat tetap tidak boleh kendur," kata dr. Siti Ningsih saat dikonfirmasi, Minggu (26/7/226).
Berdasarkan rincian bulanan, sebaran kasus terbagi atas Januari dua kasus, Februari enam kasus, Maret empat kasus, April delapan kasus, Mei sembilan kasus, serta Juni dan Juli masing-masing tiga kasus.
Sementara itu, tingkat Incidence Rate tertinggi per kelurahan tercatat di Kelurahan Palam dengan angka IR mencapai 49,00 per 100.000 penduduk.
Selain lonjakan kasus di beberapa titik, evaluasi Angka Bebas Jentik (ABJ) di Banjarbaru juga menjadi perhatian serius. Target nasional untuk ABJ berada di atas 95 persen, namun beberapa wilayah di Banjarbaru masih berada di bawah ambang batas tersebut.
Puskesmas Cempaka mencatat ABJ terendah dengan angka 59,30 persen, disusul Puskesmas Guntung Manggis sebesar 73,13 persen dan Banjarbaru Utara sebesar 82,44 persen.
Sebaliknya, wilayah Puskesmas Sungai Besar mencatatkan kinerja terbaik dengan ABJ sempurna mencapai 100 persen, diikuti Liang Anggang sebesar 95,71 persen.
Melihat capaian ABJ di sejumlah wilayah yang belum memenuhi target, dr. Siti Ningsih kembali mengingatkan masyarakat untuk memperketat gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan rumah masing-masing.
"Capaian ABJ yang masih di bawah 95 persen menandakan perindukan nyamuk Aedes aegypti masih potensial di pemukiman. Kami sangat berharap partisipasi aktif warga bersama kader jumantik untuk rutin melakukan 3M Plus, mulai dari menguras penampungan air hingga mendaur ulang barang bekas," tegas dr. Siti Ningsih.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Dinkes Banjarbaru terus melakukan pemantauan rutin, pembagian larvasida atau abate, serta pelaksanaan fogging fokus pada wilayah yang terdeteksi adanya penularan aktif.(frz/rdh)

