Trending

Karhutla di Balangan Menyusut Tajam, Posko Siaga Tetap Beroperasi 24 Jam

PENURUNAN: Proses pemadaman lahan yang terbakar di Paringin/Foto Yuanda.


BANUATODAY.COM, BALANGAN – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Balangan hingga pertengahan tahun 2026 mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan hasil analisis citra satelit Sipongi Kementerian Kehutanan, area yang terbakar hingga akhir Juni tercatat hanya mencapai 11,81 hektare, Jumat, (31/7/2026).

Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Balangan mencapai 210,60 hektare.

Jika melihat tren dalam beberapa tahun terakhir, luas karhutla di Balangan memang mengalami fluktuasi. Pada 2018 hingga 2019, luas lahan yang terbakar sempat berada di kisaran 610 hingga 894 hektare. Selanjutnya, pada 2020 tidak tercatat adanya kebakaran hutan dan lahan, kemudian hanya belasan hingga puluhan hektare pada dua tahun berikutnya.

Namun, pada 2023 luas karhutla kembali meningkat tajam hingga menembus lebih dari 1.040 hektare. Angka tersebut kemudian menurun menjadi sekitar 200 hektare pada 2024 dan 2025, sebelum kembali menyusut drastis pada paruh pertama 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, Jumaidil Hairi, mengatakan kondisi kebakaran hutan dan lahan saat ini masih dapat dikendalikan sehingga pemerintah daerah belum menetapkan status siaga darurat.

Selain itu, BPBD Balangan juga belum mengajukan permohonan bantuan pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing kepada pemerintah provinsi.

"Sementara untuk status Balangan masih belum menetapkan siaga darurat sembari melihat kondisi lebih lanjut. Karena kondisi sejauh ini relatif masih bisa tertangani, kami juga belum mengajukan bantuan water bombing," terang Jumaidil, Selasa (28/7).

Meski demikian, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah titik api mulai terpantau di beberapa wilayah. Berdasarkan pemantauan, Kecamatan Batumandi dan Lampihong menjadi daerah dengan jumlah titik api terbanyak.

"Kecamatan penyumbang titik api terbanyak saat ini memang berada di Batumandi dan Lampihong. Namun, untuk kesiapsiagaan penanganan, kami selalu mengaktifkan posko di kantor induk selama 24 jam setiap harinya," tambahnya.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran selama musim kemarau, BPBD Balangan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, di antaranya Manggala Agni Daerah Operasi VI Tanah Laut melalui pondok kerja di Batumandi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Balangan, TNI, Polri, hingga relawan kebencanaan.

Jumaidil mengatakan sinergi lintas sektor menjadi hal penting dalam penanganan karhutla, mengingat kendala utama saat proses pemadaman di lapangan masih berupa keterbatasan sumber air dan sarana pendukung.

"Koordinasi lintas sektor ini sangat penting, apalagi kendala utama di lapangan saat pemadaman adalah minimnya ketersediaan sumber air serta sarana prasarana pendukung lainnya," urainya.

Memasuki puncak musim kemarau, BPBD Balangan memastikan pengawasan di wilayah rawan kebakaran akan terus diperketat. Upaya mitigasi dan kolaborasi seluruh pihak diharapkan mampu mempertahankan tren penurunan luas karhutla hingga akhir tahun 2026. (nt/ak)

Lebih baru Lebih lama