Trending

Kemarau Lebih Panjang, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Waspadai Penurunan Produksi Padi

 

WASPADA : Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah/foto:yan

BANUATODAY.COM,MARTAPURA – Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mewaspadai potensi penurunan produksi padi akibat musim kemarau yang datang lebih cepat dan diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah menjelaskan, kondisi kemarau tahun ini diprediksi menyerupai bahkan lebih kering dibandingkan 2025. Hal itu sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut awal musim kemarau datang lebih cepat.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada petani yang menanam padi lokal berumur panjang. Padi lokal yang umumnya dipindah tanam memerlukan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan hingga panen, sehingga berisiko terdampak kekeringan apabila jadwal tanam tidak sesuai dengan kondisi cuaca.

"Yang rentan saat ini adalah petani yang salah memperkirakan jadwal tanam. Karena masyarakat Kabupaten Banjar masih banyak mengonsumsi beras lokal untuk kebutuhan sendiri, mereka tetap memilih menanam padi lokal," ujarnya.

Padahal, lanjutnya, saat ini telah tersedia varietas padi lokal unggul yang memiliki umur panen lebih singkat, sekitar tiga setengah hingga empat bulan. Penggunaan varietas tersebut dinilai lebih mampu mengurangi risiko kerugian saat musim kemarau berkepanjangan.

Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), hingga saat ini terdapat sekitar 206 hektare lahan sawah yang terdampak kekeringan. Meski demikian, belum ada laporan puso atau gagal panen.

Lahan terdampak paling banyak berada di Kecamatan Beruntung Baru, Martapura Barat, dan Martapura Timur. Di Beruntung Baru, tanaman yang terdampak umumnya sudah memasuki fase generatif atau menjelang panen, sehingga dikhawatirkan produksi gabah menurun akibat kekurangan air saat proses pengisian bulir.

"Yang kami khawatirkan bukan gagal panen, tetapi produksi akan turun dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.

Tanaman yang mulai terdampak merupakan padi yang ditanam pada April hingga Juni. Sementara tanaman yang ditanam pada Oktober hingga Maret telah lebih dulu dipanen sehingga relatif aman dari dampak kemarau.

Dinas Pertanian juga mengungkapkan potensi luasan lahan terdampak masih bisa bertambah. Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Mataraman dan Simpang Empat mulai menunjukkan gejala kekeringan dengan kondisi lahan sawah yang mulai retak, meski hingga kini belum dilaporkan mengalami kerusakan berat maupun gagal panen.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian terus melakukan penyuluhan kepada petani serta mengoptimalkan bantuan pompa air. Pada 2024, pemerintah telah menyalurkan 219 unit pompa air kepada kelompok tani. Selain itu, pemerintah juga mengusulkan tambahan 225 unit pompa air kepada Kementerian Pertanian yang saat ini masih dalam proses.

Dinas Pertanian berharap seluruh pompa air yang telah dimiliki kelompok tani, termasuk bantuan dari berbagai program dan CSR, dapat dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk membantu daerah yang mengalami kekurangan air selama musim kemarau.(Yan/fsl)

Lebih baru Lebih lama