BANUATODAY.COM,BANJAR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga berpotensi memukul produktivitas sektor perkebunan. Tanaman karet dan sawit menjadi komoditas yang harus diwaspadai apabila api sampai merambah lahan perkebunan.
Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Abdul Basyid, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan perkebunan yang terdampak langsung karhutla.
Namun, berbagai langkah pencegahan telah disiapkan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran ke kawasan perkebunan.
Salah satunya dengan melibatkan perusahaan perkebunan yang berada di sejumlah wilayah seperti Cintapuri, Mataraman dan Astambul. Perusahaan diminta turut membantu pemadaman kebakaran yang terjadi di sekitar wilayah mereka, termasuk pada lahan masyarakat.
Selain itu, terdapat 32 Kelompok Tani Peduli Api atau KTPA yang disiagakan di sejumlah kawasan rawan, mulai dari Karang Intan, Mataraman, Simpang Empat hingga Sungai Pinang.
“Kami sudah memiliki 32 kelompok tani peduli api yang tersebar di daerah-daerah atas. Kalau mereka membutuhkan alat, bisa menyurati kami untuk meminjam alat atau mesin pemadam,” katanya
Menurutnya, pencegahan juga dilakukan jauh sebelum puncak musim kemarau. Sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar terus digencarkan, disertai pemasangan spanduk larangan membakar lahan perkebunan.
Sejumlah kecamatan telah menjadi lokasi sosialisasi, di antaranya Astambul dan Pengaron. Sosialisasi berikutnya juga akan dilakukan di Kecamatan Sambung Makmur.
Abdul Basyid menegaskan, apabila api sampai membakar tanaman perkebunan, penurunan produksi tidak dapat dihindari.
Pada tanaman karet, kebakaran dapat menyebabkan pohon rusak hingga mati sehingga aktivitas penyadapan terhenti. Sedangkan sawit masih memiliki kemungkinan untuk kembali produktif, tetapi membutuhkan waktu pemulihan hingga sekitar dua tahun.
Di sisi lain, pihaknya belum dapat memastikan besarnya pengaruh paparan asap terhadap produktivitas tanaman karena belum memiliki penelitian yang secara spesifik mengukur dampak ketebalan asap terhadap produksi tanaman perkebunan.
“Kalau terbakar itu pasti menurunkan produksi. Apakah sawit ataupun karet, pasti terdampak,” tegasnya.
Untuk saat ini, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar memastikan belum menerima laporan adanya perkebunan yang terdampak langsung. Petani dan perusahaan pun terus didorong untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama selama kondisi kemarau dan potensi karhutla masih tinggi.(yan/fsl)

