![]() |
| DUKA: Bambang Sutrisno PAS Band/Foto Instagram sandypasband_ |
BANUATODAY.COM, BANDUNG – Dunia musik Tanah Air kembali diselimuti duka mendalam atas berpulangnya bassis legendaris PAS Band, Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Trisno, pada usia 55 tahun, Sabtu, (1/8/2026).
Musisi kelahiran 16 Agustus 1970 tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Hermina, Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 14.30 WIB, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit serius. Almarhum diketahui mengalami gagal ginjal kronis dengan fungsi ginjal yang tersisa hanya 5 persen sehingga harus rutin menjalani cuci darah, serta sempat menjalani operasi akibat penyumbatan darah di kepala.
Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh sang drummer, Sandy Andarusman, melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, Sandy mengekspresikan duka mendalam atas kepergian sahabat sekaligus rekan sejawatnya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Telah berpulang ke Rahmatullah saudara kami, bassist kami jam 14:30 hari ini," tulis Sandy.
Sambil tak kuasa menahan air mata, Sandy mengenang sosok Trisno sebagai seorang sahabat yang sangat jujur, terutama ketika berada di atas panggung musik.
"Bro itu orangnya jujur. Jujur banget. Dia kalau suka banget dengan panggung itu, dia akan tos sama saya," kenang Sandy.
Sandy menceritakan, sebelum menjalani perawatan medis intensif, almarhum sempat menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, para personel PAS Band terus memaksa hingga akhirnya kondisi kesehatannya terungkap. Selama masa kritis di rumah sakit, Sandy terus mendampingi dan memberikan dorongan moral.
"Ayo Bro sembuh, sembuh," bisik Sandy saat mendampingi Trisno di ruang perawatan.
Meski sempat mengalami kejang-kejang pascaoperasi kepala, semangat bermusik Trisno terus dijaga oleh rekan-rekannya. Personel PAS Band bahkan sempat mengundangnya ikut latihan bersama sebagai persiapan untuk panggung mendatang di Subang guna menjaga moril almarhum. Sebelum wafat, vokalis PAS Band, Yukie, beserta keluarga besar band juga sempat menggalang doa dan donasi untuk membantu proses pengobatan.
Selain dikenal sebagai pilar musik rock alternatif Indonesia bersama sang kakak, Bengbeng, sejak era 1990-an, almarhum Trisno juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang guru bahasa Jerman. Kepergiannya memicu gelombang duka dari rekan-rekan sesama musisi Tanah Air, seperti Bondan Prakoso, Bagus NTRL, hingga Eno NTRL.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka kawasan Cibangkong, Batununggal, Kota Bandung, dan rencananya dimakamkan pada Minggu pagi, 2 Agustus 2026. (naz/fsl)

