BANUATODAY.COM,BANJARMASIN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dinilai ikut mendorong peningkatan penggunaan Trans Banjarbakula di wilayah aglomerasi.
Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan (Dishub Kalsel) mencatat jumlah penumpang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.Hingga Juli 2026, jumlah pengguna Trans Banjarbakula mencapai 1.379.177 orang.Juli menjadi bulan dengan jumlah penumpang tertinggi sepanjang Januari-Juli, yakni 217.565 orang.
Kepala Bidang Angkutan Jalan (Kabid AJ) Dishub Kalsel Adi Rosian membenarkan adanya peningkatan penumpang selama dampak kabut asap.
“Selama dampak kabut asap, ada peningkatan jumlah penumpang,” katanya, Jumat,kemarin.
Wilayah layanan Trans Banjarbakula mencakup kawasan aglomerasi Banjarbakula, termasuk Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
Adi menyebut kenaikan tersebut tidak sepenuhnya baru terjadi saat kabut asap.
Berdasarkan data Load Factor Trans Banjarbakula 2026, jumlah penumpang sempat turun dari 193.124 orang pada Januari menjadi 167.755 orang pada Februari.
Namun, sejak Maret tren kembali naik. Penumpang tercatat 173.845 orang pada Maret, kemudian melonjak menjadi 208.009 orang pada April.
Jumlah tersebut relatif bertahan pada Mei dengan 207.837 penumpang, lalu meningkat menjadi 211.042 orang pada Juni. Puncaknya terjadi pada Juli dengan 217.565 penumpang.
Artinya, jumlah penumpang Juli meningkat sekitar 12,7 persen dibanding Januari. Kenaikan ini berlangsung sejak menjelang periode kemarau hingga saat kabut asap mulai melanda sejumlah wilayah.
Tingkat keterisian bus juga menunjukkan tingginya permintaan. Load factor yang pada Maret berada di angka 79,64 persen meningkat menjadi 97,77 persen pada April.
Pada Mei, load factor tercatat 94,82 persen, kemudian mencapai 99,47 persen pada Juni dan 99,22 persen pada Juli. Secara kumulatif, load factor Januari-Juli berada di angka 92,02 persen.
Menurut Adi, kabut asap berpotensi membuat masyarakat memilih bus sebagai alternatif perjalanan.
Namun, ia menilai peningkatan tersebut juga merupakan bagian dari tren minat terhadap transportasi publik yang sudah berlangsung.
“Ada kemungkinan juga. Tapi kalau dilihat tren, memang minat naik bus terus meningkat,” jelasnya.
Ia mengatakan, dari komunikasi dengan sejumlah mahasiswa baru, cukup banyak yang berencana menggunakan bus untuk mobilitas mereka.
Faktor lain yang kemungkinan turut memengaruhi adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian masyarakat mempertimbangkan kembali biaya perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.
Meski jumlah penumpang meningkat, operasional Trans Banjarbakula tetap berjalan secara situasional ketika kabut asap mengganggu jarak pandang.
Adi menjelaskan, apabila jarak pandang terlalu pendek, bus dapat diminta berhenti sementara.
Jika masih memungkinkan berjalan, kecepatan akan disesuaikan dengan kondisi lalu lintas dan jarak pandang demi keselamatan penumpang.
“Kondisi kabut saat ini berpengaruh pada waktu tempuh,” pungkasnya.(yln/fsl)

