BAUATODAY.COM,BANJARBARU – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengepung Kota Banjarbaru. Dampak buruknya kini kian nyata mengancam kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat adanya kenaikan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring kian pekatnya paparan asap di wilayah tersebut.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, sepanjang Januari hingga 8 Agustus 2026, tercatat sudah terjadi 223 kejadian karhutla. Total luas lahan yang hangus terbakar dilaporkan mencapai 568,86 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, mengungkapkan bahwa grafik tren kenaikan penderita ISPA mulai terlihat melonjak tajam sejak pertengahan Juli lalu, tepatnya pada Minggu Epidemiologi ke-29 tahun 2026.
"Ada kenaikan pada Minggu ke-29 dengan 879 kasus. Memasuki Minggu ke-30, jumlah penderita kembali melonjak menjadi 1.099 kasus," terang Siti Ningsih saat dikonfirmasi.
Secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026, total warga Banjarbaru yang terserang ISPA telah menembus angka fantastis, yakni 21.323 kasus.
Siti menjelaskan, secara epidemiologi terdapat keterkaitan erat antara tingginya paparan asap karhutla dengan risiko gangguan pernapasan.
Asap sisa pembakaran lahan membawa partikel halus, karbon monoksida, dan berbagai zat iritan berbahaya yang rentan masuk hingga ke dalam paru-paru.
"Kondisi ini memicu batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas. Bagi warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru kronis, risikonya bisa jauh lebih berat," tambahnya.
Meski demikian, pihak Dinkes tidak menggeneralisasi seluruh kasus ISPA semata-mata dipicu oleh karhutla. Faktor pemicu lain seperti infeksi virus, bakteri, perubah cuaca ekstrem, sirkulasi udara indoor yang buruk, hingga paparan asap rokok turut menyumbang angka kejadian.
Namun, pada situasi darurat kabut asap saat ini, kelompok rentan dinilai memiliki tingkat risiko paling tinggi mengalami komplikasi pernapasan.
Kelompok rentan tersebut mencakup balita, anak usia sekolah, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Menyikapi krisis kualitas udara tersebut, Dinkes Banjarbaru mengeluarkan sejumlah imbauan tegas kepada warga. Masyarakat diminta sebisa mungkin membatasi aktivitas di luar rumah.
"Jika memang mendesak harus beraktivitas di luar ruangan, warga sangat disarankan mengenakan masker standar perlindungan tinggi seperti jenis KN95 atau N95," imbau Siti.
Saat kabut asap merapat ke pemukiman, warga juga diminta rapat-rapat menutup pintu dan jendela rumah.
Langkah pencegahan mendasar seperti menjaga imunitas dengan istirahat cukup, banyak minum air putih, serta menghentikan aksi pembakaran sampah maupun lahan juga terus disosialisasikan.
Pemerintah mengimbau warga untuk tidak menunda berobat jika mulai merasakan gejala memburuk.
"Apabila mengalami batuk berlanjut, sesak napas, demam, atau nyeri dada, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat," pungkasnya.(yan/fsl)

