![]() |
| GUNCANG: Gempa Bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa/Foto Instagram nowdots. |
BANUATODAY.COM, NUSA TENGGARA TIMUR – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya, Sabtu, (15/8/2026). Guncangan dahsyat tersebut memicu kepanikan warga, mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur publik dan pemukiman penduduk, serta menelan korban jiwa.
Berdasarkan pemutakhiran data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia tersebar di beberapa kabupaten di NTT, antara lain Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, hingga Ngada. Selain korban jiwa, puluhan warga mengalami luka-luka dan ribuan penduduk terpaksa melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih aman.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa jumlah korban jiwa serta kerusakan sarana prasarana masih terus dipantau dan diperbarui oleh tim gabungan di lapangan.
“Update korban gempa meninggal dunia 43 orang,” kata Suharyanto, Sabtu (15/8/2026).
Suharyanto menjelaskan bahwa selain rumah warga dan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, guncangan gempa juga berdampak pada akses jalan darat serta beberapa fasilitas transportasi udara.
“Ada beberapa jalan yang longsor tertutup. Datanya nanti akan disampaikan secara perinci dan detail dari Kementerian PU. Ada beberapa rumah masyarakat, ini tentu saja didata terus ya, berkembang terus,” kata Suharyanto.
Ia menambahkan, pendataan dilakukan secara berkesinambungan bersama instansi terkait untuk memastikan penyaluran bantuan serta penanganan darurat dapat berjalan optimal.
“Tetapi tentu saja ini adalah hari pertama terjadinya bencana, datanya akan berkembang terus dan nanti akan diberikan informasi kepada rekan-rekan media secara day-to-day, hari per hari,” ucap dia.
Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun bersiaga terhadap potensi bahaya sekunder dan gempa susulan.
“Melalui media ini, kami meminta masyarakat tetap tenang. Meski peringatan tsunami sudah dicabut, kami menghimbau agar masyarakat tetap menjauhi pantai saat ini sebelum nanti ada peringatan lain dari BMKG,” kata
Berton juga mengingatkan warga untuk tidak menempati atau mendekati struktur bangunan yang telah mengalami keretakan pascagempa.
“Karena ini berpotensi bahaya ketika ada gempa susulan,” kata Berton.
Saat ini BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU, serta unsur sukarelawan lintas instansi terus mempercepat evakuasi korban, pendirian posko pengungsian, dan pemulihan jalur konektivitas di seluruh wilayah terdampak. (naz/fsl)

