BANUATODAY.COM,BANJARMASIN — Sungai yang dangkal menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengendalian banjir di Banjarmasin. Kali ini, giliran kawasan Sungai Baru dan Pekapuran Raya yang dibenahi.
Pemko Banjarmasin bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III mengerahkan excavator amphibi untuk mengeruk sedimentasi sungai, Kamis (20/8). Pengerjaan dimulai sore hingga malam hari.
Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR mengatakan normalisasi bisa dilakukan setelah lahan di sekitar kawasan sungai dibebaskan. Kini, pekerjaan difokuskan pada penataan dan pembersihan sungai yang sudah dangkal.
“Ini kita melakukan penormalisasian di Sungai Baru. Tentunya ini sudah dibebaskan lahan semuanya, tinggal kita melakukan penataan dan pembersihan sungai-sungai yang dangkal,” ujar Yamin, Minggu (22/08)
Pengerukan dilakukan saat air mulai surut. Kondisi tersebut membuat alat berat bisa bekerja lebih maksimal mengangkat endapan yang menumpuk di dasar sungai.
Kawasan yang dinormalisasi diharapkan bisa menjadi tempat retensi ketika genangan terjadi. Dengan begitu, air memiliki ruang untuk ditampung sebelum mengalir ke kawasan lainnya.
“Harapan kita ini juga bisa menjadi satu tempat retensi genangan air di Kota Banjarmasin, khususnya di wilayah Kelurahan Sungai Baru dan Pekapuran Raya,” jelas Yamin.
Pembersihan ditargetkan selesai sekitar satu pekan. Setelah itu, penataan kawasan akan dilanjutkan sesuai kebutuhan.
Yamin mengakui pengerjaan tersebut berpotensi mengganggu aktivitas warga. Terutama karena mobilisasi alat berat dan truk pengangkut sedimentasi.
“Kami mohon maaf apabila dalam proses pengerukan ini ada gangguan terhadap aktivitas masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, Kepala BWS Kalimantan III Sandi Erianto mengatakan bahwa normalisasi sungai tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kerja sama tersebut penting untuk menangani persoalan banjir di Kota Banjarmasin. Bahkan, kawasan yang kini ditata diharapkan menjadi contoh untuk sungai lainnya.
Sandi mengatakan, penataan tidak harus menunggu proyek besar. Satu segmen sungai yang ditangani dengan baik sudah bisa menjadi contoh nyata.
“Kita contoh satu segmen meskipun hanya 500 meter, kita apa pun kita lakukan,” ungkapnya.
Normalisasi ini diharapkan tak berhenti pada pengerukan. Setelah sungai kembali berfungsi optimal, kawasan tersebut akan ditata agar bisa mendukung sistem pengendalian banjir.(yln/fsl)

