Trending

Tercatat 73 Kebakaran terjadi di Banjarmasin, Barat dan Tengah Paling Rawan

 

PADAM: Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api/Foto: Marliansyah 

BANUATODAY.COM,BANJARMASIN - Hingga kini sudah ada 73 musibah kebakaran yang melanda Kota Banjarmasin, hal ini membuat kebakaran menjadi ancaman bagi warga Kota Banjarmasin.

Kabid Pemadaman Disdamkarmat Kota Banjarmasin Marliansyah mengatakan, kejadian tersebut tersebar di lima kecamatan.

Banjarmasin Barat menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 20 kejadian. Disusul Banjarmasin Tengah 19 kejadian, Banjarmasin Selatan 15 kejadian, Banjarmasin Utara 12 kejadian, dan Banjarmasin Timur tujuh kejadian.

“Yang sementara dominan itu Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Tengah,” ujar Marliansyah.

Menurutnya, angka tersebut masih bisa bertambah. Sebab, data yang dihimpun baru sampai 14 Agustus. Sementara Agustus masih dua pekan lagi.

Namun dibandingkan periode tahun sebelumnya, jumlah kejadian kebakaran tahun ini masih lebih rendah. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena musim kemarau masih berlangsung.

“Kalau dibandingkan tahun lalu sampai Agustus, masih tinggi tahun lalu. Ini masih ada waktu setengah bulan lagi,” katanya.

Di tengah kondisi kemarau, petugas juga menghadapi tantangan berbeda saat melakukan pemadaman. Bahan-bahan yang kering membuat api lebih cepat menjalar.

“Musim kemarau, penyebarannya lebih cepat. Makanya penanganan kita harus lebih cepat,” jelasnya.

Selain kondisi material yang mudah terbakar, akses menuju lokasi juga menjadi persoalan. Jalan sempit dan sulit dijangkau kendaraan pemadam kerap memperlambat proses penanganan.

Untuk kebutuhan air, Disdamkarmat masih mengandalkan armada tangki. Jika lokasi kebakaran tidak memiliki sumber air, tangki digunakan untuk menyuplai kebutuhan selama proses pemadaman.

Petugas juga mendapat dukungan dari Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) dalam penanganan di lapangan.

Sementara terkait penyebab kebakaran, Marliansyah mengatakan Disdamkarmat tidak melakukan investigasi khusus. Tugas utama mereka adalah melakukan pemadaman dan penyelamatan.

Namun, dari pola kejadian di rumah warga, persoalan listrik patut menjadi perhatian. Terlebih, sejumlah kebakaran terjadi ketika rumah dalam keadaan kosong.

“Kalau rumah tidak ada orang, tidak ada aktivitas. Kemungkinan listrik menjadi salah satu faktornya,” katanya.

Dari sisi personel dan armada, Marliansyah menyebut kondisi saat ini masih relatif aman. Namun, situasi berbeda jika beberapa kebakaran terjadi dalam waktu bersamaan.

“Kita punya tiga regu. Kalau memang urgent, regu yang sedang istirahat bisa kita panggil turun,” pungkasnya.

Ia mengingatkan masyarakat tidak panik ketika melihat api. Tiga menit pertama disebut menjadi waktu penting untuk mencegah api berkembang lebih besar.

“Kalau ada api, jangan panik. Tiga menit pertama itu kita bisa mengatasi,” pesannya.

Warga juga diminta lebih mengutamakan keselamatan dan tidak sibuk menyelamatkan harta benda ketika api sudah membesar. 

Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Isnaini menilai tingginya potensi kebakaran di tengah musim kemarau ekstrem perlu menjadi perhatian serius. Kondisi cuaca kering ditambah pemadaman listrik dapat mendorong masyarakat menggunakan sumber penerangan alternatif seperti lilin dan lampu teplok yang memiliki risiko kebakaran.

Menurutnya, kawasan Banjarmasin Tengah dan Barat juga perlu mendapat perhatian karena terdapat banyak bangunan yang relatif sepi penghuni. Kondisi tersebut berpotensi membuat kebakaran terlambat diketahui dan penanganannya menjadi lebih lambat.

“Kebakaran bukan hanya berdampak pada harta benda, tetapi juga bisa mengancam jiwa,” ujarnya.

Ia meminta warga lebih berhati-hati ketika terjadi pemadaman listrik. Penggunaan lilin, lampu teplok maupun sumber api lainnya sebaiknya dihindari jika masih tersedia alternatif penerangan yang lebih aman.

Selain itu, Isnaini mengingatkan pentingnya pemeriksaan instalasi listrik secara berkala. Kabel dan instalasi yang sudah tidak layak sebaiknya segera diperbaiki atau diganti untuk mengurangi risiko korsleting.

Di sisi lain, keberadaan banyak barisan pemadam kebakaran di Banjarmasin dinilainya menjadi kekuatan dalam menghadapi ancaman kebakaran. Namun, jumlah tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan, kesiapsiagaan dan koordinasi antarpetugas agar respons terhadap kebakaran semakin cepat.(yln/fsl

Lebih baru Lebih lama