BANUATODAY.COM,BANJARMASIN - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali berdampak nyata bagi Kota Banjarmasin.
Selain membuat jarak pandang terbatas, pekatnya kabut asap kini menjadi ancaman nyata bagi saluran pernapasan warga.
Kondisi udara yang terus memburuk ini memantik respon dari Dokter Spesialis Paru RSUD Ulin Banjarmasin, dr. Soraya Riefani, Sp.P.
Ia mengimbau agar masyarakat tidak hanya bergantung pada penanganan pemerintah, tetapi aktif melakukan pertahanan mandiri.
"Saat kondisi kabut asap tebal dampak karhutla seperti ini, yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat sebenarnya ada upaya pencegahan primer. Contohnya menggunakan alat pelindung diri seperti masker. Walaupun memang tidak 100 persen efektif, tetapi bisa mengurangi risiko gangguan pada saluran pernapasan," ujar dr. Soraya, Rabu (26/08).
Tak sekadar memakai alat pelindung diri, menjaga pola hidup di rumah juga menjadi kunci vital.
Aktivitas merokok dan membakar sampah disuarakan untuk dihentikan sementara agar tidak memperburuk kualitas udara lokal.
"Upaya pencegahan ini bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, tidak hanya dari pemerintah, tetapi warga turut membantu," tegasnya.
dr. Soraya juga mengingatkan pentingnya nutrisi tinggi vitamin untuk menguatkan daya tahan tubuh dari dalam. Perhatian ekstra perlu diberikan kepada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia di atas 65 tahun, serta warga dengan penyakit penyerta.
"Kita atensi kepada pasien dengan riwayat penyakit paru (asma, PPOK) hingga penyakit jantung. Paparan partikel asap dapat memperburuk kondisi pernapasan sekaligus memicu gangguan jantung," paparnya.
Tren berolahraga di luar ruangan saat kabut asap sangat disayangkan oleh dr. Soraya. Mengudara saat polusi tinggi justru berisiko menarik partikel racun masuk lebih dalam ke paru-paru akibat napas yang terengah-engah.
Terakhir, ia berpesan agar warga tidak abai ketika tubuh mulai memberikan sinyal bahaya.
"Kondisi yang wajib untuk memeriksakan diri itu jika memang sudah terdapat gangguan dampak kesehatan, contohnya di paru—misalnya pasien ada batuk, sesak napas, atau nyeri dada. Kami sangat menyarankan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat lebih dahulu. Jika perlu dirujuk untuk indikasi tertentu, tentu dipersilakan," pungkas dr. Soraya.(naz/fsl)

