KEKERINGAN: Petugas BPBD Kabupaten Banjar mendistribusikan air bersih kepada warga di wilayah yang mengalami kekeringan/foto:bpbdBANUATODAY.COM,MARTAPURA -Sebanyak 68 desa di Kabupaten Banjar masih krisis air bersih, meski BPBD Banjar telah didistribusikan mencapai 2.679.700 liter. Krisis karena kekeringan dan kemarau yang panjang,
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, secara umum kondisi kekeringan masih tergolong sedang. Namun, di sejumlah wilayah dampaknya sudah terasa hingga memicu krisis air bersih.
“Setiap hari kami salurkan air bersih untuk masyarakat,” ujar Wasis saat ditemui di Posko Karhutla Sambang Lihum.
Wilayah yang mengalami krisis air bersih antara lain Kecamatan Beruntung Baru, Tatah Makmur dan sebagian Martapura Timur.
Sejumlah wilayah lain juga mulai mengalami kondisi serupa karena sumber air warga mengering.
Data BPBD menunjukkan cakupan penanganan terus bertambah. Pada awal September, jumlah desa yang terdampak masih berada di kisaran 50-an desa. Kini jumlahnya mencapai 68 desa yang tersebar di 16 kecamatan.
Kondisi tersebut membuat distribusi air dilakukan secara bergilir. Banyaknya desa yang membutuhkan bantuan membuat BPBD harus menyesuaikan pengiriman berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Selain mengandalkan distribusi air, BPBD juga meminjamkan 130 tandon untuk mendukung penampungan air di sejumlah desa terdampak.
Penanganan dilakukan bersama lintas sektor, termasuk DPKP, DPRKPLH, PMI, BUSER 690, BPBPK Kalsel dan sejumlah unsur lainnya.
Wasis menjelaskan, warga yang membutuhkan suplai air bersih dapat menyampaikan laporan melalui pemerintah desa. Selanjutnya, pembakal mengajukan permohonan secara resmi kepada BPBD untuk ditindaklanjuti.
“Kurang lebih sudah 68 desa. Kalau kita total suplai air bersih sampai sekarang sudah dua juta lebih liter,” katanya.
Selain sumber air yang mengering, BPBD juga mencatat penanganan distribusi air bersih berkaitan dengan persoalan kualitas sumber air, termasuk pencemaran air Sungai Martapura.
Di Kecamatan Aluh-Aluh, misalnya, persoalan air tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan.
Sebelumnya, pemerintah kecamatan melaporkan air sumur warga mengalami peningkatan kadar asin akibat pengaruh air laut.
Kondisi tersebut membuat sumber air yang masih tersedia tidak seluruhnya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, tekanan kemarau juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam sepekan terakhir, BPBD mencatat peningkatan kejadian karhutla, terutama di Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Martapura Barat dan sebagian wilayah Cintapuri Darussalam.Kondisi ini membuat kebutuhan penanganan di lapangan berlangsung bersamaan.
Di satu sisi BPBD harus memenuhi kebutuhan air bersih warga yang sumber airnya mengering, sementara di sisi lain sumber daya dan air juga dibutuhkan untuk penanganan karhutla.
Distribusi air bersih hingga kini masih dilakukan secara bertahap ke desa-desa yang membutuhkan. BPBD juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama kondisi kemarau masih berlangsung.(Yan/fsl)
