Trending

CT Scan, Mammografi dan Cath Lab Segera Layani Pasien di RSUD Datu Sanggul

 

ALKES: Tiga bantuan alat kesehatan dari Presiden RI Prabowo Subianto di RSUD Datu Sanggul akan segera dinikmati oleh masyarakat/foto:rsuddatusanggul

BANUATODAY.COM,TAPIN -Tiga peralatan kesehatan bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI untuk RSUD Datu Sanggul Rantau ditargetkan segera digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Tiga alat tersebut yakni CT Scan, mammografi, dan Cath Lab. Dukungan peralatan kesehatan itu merupakan bantuan dari pemerintah pusat di bawah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melalui Kementerian Kesehatan RI.

Plt Direktur RSUD Datu Sanggul Rantau, dr. Mujiran, mengatakan proses persiapan penggunaan ketiga alat tersebut terus dilakukan.

Untuk CT Scan, pihak rumah sakit telah menyelesaikan proses verifikasi kredensial dengan BPJS Kesehatan. Selanjutnya, RSUD Datu Sanggul menargetkan penandatanganan berita acara kerja sama dengan BPJS Kesehatan dalam waktu sekitar dua pekan ke depan.

Sementara itu, untuk Cath Lab dan mammografi, proses perizinan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) masih berjalan.

"Insyaallah nanti di Hari Jadi Tapin, ketiga alat tersebut bisa dipakai untuk pelayanan masyarakat Kabupaten Tapin sebagai kado dari RSUD Datu Sanggul," ujar dokter spesialis bedah ini, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, kehadiran tiga peralatan tersebut diharapkan membawa perubahan besar terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Tapin.

Terutama dalam penanganan penyakit stroke, jantung, dan kanker yang selama ini pada kondisi tertentu masih membutuhkan rujukan ke rumah sakit di luar daerah.

"Dengan kehadiran ketiga alat tersebut, perubahan terbesar dalam pelayanan RSUD Datu Sanggul adalah ke depan pasien stroke, jantung, dan kanker bisa ditangani oleh RSUD Datu Sanggul," katanya.

Dengan begitu, pihak rumah sakit berupaya menekan angka rujukan untuk kasus-kasus tersebut. Masyarakat Tapin juga diharapkan tidak perlu menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tertentu.

"Sehingga sebisa mungkin bisa mengurangi rujukan untuk kasus-kasus tersebut dan masyarakat Tapin tidak perlu jauh-jauh berobat," jelasnya.

Terkait nilai bantuan, dr. Mujiran menyebut ketiga peralatan kesehatan tersebut merupakan hibah dari Kementerian Kesehatan. Karena itu, pihak rumah sakit tidak mengetahui secara pasti total anggaran yang dikeluarkan pemerintah pusat untuk pengadaan seluruh alat tersebut.

Kehadiran fasilitas baru itu juga tidak serta-merta mengubah status RSUD Datu Sanggul.

Dr. Mujiran menjelaskan, sistem klasifikasi rumah sakit saat ini tidak lagi semata-mata menggunakan kategori kelas A, B, C, dan D. Penilaian lebih mengacu pada kemampuan dan jenis layanan yang diberikan rumah sakit.

"Status rumah sakit tidak berubah. Terlebih sekarang kelas rumah sakit tidak lagi dibedakan dengan kelas A, B, C, dan D, tetapi berdasarkan layanan rumah sakit. Kriteria sekarang Dasar, Madya, Utama, dan Paripurna," terangnya.

Saat ini, RSUD Datu Sanggul tengah mengejar kriteria Madya untuk seluruh layanan yang tersedia.

Di sisi lain, keberadaan tiga alat kesehatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap efisiensi rujukan sekaligus mengurangi potensi kehilangan pendapatan rumah sakit.

Dr. Mujiran menyebut, berdasarkan laporan BPJS Kesehatan, potensi kehilangan pendapatan RSUD Datu Sanggul akibat rujukan pasien mencapai lebih dari Rp5 miliar setiap tahun.

"Ini belum kita analisis, tetapi dari laporan BPJS, potensi lost income RSUD Datu Sanggul lebih dari Rp5 miliar setiap tahun akibat rujukan pasien," ungkapnya.

Meski demikian, rumah sakit belum menetapkan angka pasti target penurunan rujukan setelah tiga alat tersebut beroperasi. Yang jelas, RSUD Datu Sanggul menargetkan semaksimal mungkin kasus yang dapat ditangani di dalam daerah tidak lagi harus dirujuk ke rumah sakit lain.

"Kita targetkan sedapat mungkin bisa mengurangi rujukan pasien ke rumah sakit lain sehingga sangat membantu masyarakat Kabupaten Tapin," katanya.

Namun, pengoperasian alat canggih tersebut bukan tanpa tantangan. Menurut dr. Mujiran, kendala terbesar yang masih dihadapi adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM), baik dokter maupun tenaga kesehatan lainnya.

Untuk layanan CT Scan dan mammografi, kebutuhan SDM disebut sudah terpenuhi. Berbeda dengan layanan Cath Lab yang membutuhkan dokter dengan kompetensi khusus.

"Untuk Cath Lab, dokter jantung kita masih menunggu jadwal pendidikan fellowship intervensi yang insyaallah baru tahun depan," ujarnya.

Sambil menunggu proses tersebut, RSUD Datu Sanggul tengah membangun komitmen dengan dokter spesialis jantung yang telah memiliki sertifikasi intervensi untuk menjadi dokter mitra di rumah sakit tersebut.

Upaya itu dilakukan agar layanan Cath Lab nantinya dapat berjalan optimal dan tidak hanya berhenti pada tersedianya peralatan.

Dr. Mujiran berharap dukungan pemerintah pusat terhadap peningkatan fasilitas kesehatan di daerah dapat terus berlanjut.

"Harapan kita kepada Kementerian Kesehatan adalah semoga bantuan alat kesehatan dan juga bantuan fisik lainnya bisa terus diupayakan sehingga meningkatkan mutu layanan RSUD Datu Sanggul," katanya.

Sementara kepada Pemerintah Kabupaten Tapin, pihak rumah sakit berharap dukungan anggaran dan SDM terus diperkuat.

Pasalnya, RSUD Datu Sanggul masih membutuhkan tambahan dokter, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya untuk menunjang peningkatan layanan.

"Harapan kepada Pemerintah Kabupaten Tapin, semoga dukungan anggaran kepada RSUD Datu Sanggul terus ditingkatkan. Demikian juga dukungan SDM berupa penambahan SDM, baik dokter, perawat, maupun nakes lainnya karena RSUD Datu Sanggul masih sangat kekurangan," pungkasnya.(Frz/rdh)

Lebih baru Lebih lama