JENAZAH :Petugas DVI Polda Kalsel menerima kedatangan jenazah korban KM Virgo Transport 8 di RS Bhayangkara Banjarmasin/foto:Polda BANUATODAY.COM,BANJARMASIN– Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalsel di RS Bhayangkara Banjarmasin kembali dipenuhi jenazah korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 16 jenazah tiba pada hari ke-12 pencarian, Kamis (24/9/2026) malam.
Jumlah tersebut menambah jenazah yang masih menjalani proses identifikasi. Saat ini, 22 jenazah masih berada dalam proses pemeriksaan DVI, termasuk pengambilan sampel DNA untuk dicocokkan dengan data antemortem keluarga.
Meski jumlah jenazah terus bertambah, DVI telah menyiapkan dua kontainer besar untuk menampung seluruh korban apabila proses evakuasi dari bangkai kapal terus berlanjut.
Karo Dokkes Pusdokkes Polri Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti mengatakan dua kontainer tersebut sejak awal memang disiapkan untuk kebutuhan operasi DVI. Kapasitasnya mencapai sekitar 200 jenazah.
Artinya, fasilitas penyimpanan masih disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan seluruh korban yang masih dalam pencarian ditemukan dan dievakuasi.
DVI juga masih membutuhkan ruang tersebut karena proses identifikasi tidak serta-merta selesai setelah jenazah tiba.
Selain DNA, tim DVI juga terus mencari kecocokan melalui metode identifikasi primer, seperti pemeriksaan gigi, serta data sekunder berupa ciri medis dan properti yang melekat pada korban.
“Dari tim DVI, 22 jenazah yang belum teridentifikasi, kami ambil sampel DNA semua. Dan memang kami masih terus berusaha mencari semaksimal mungkin, mungkin dari identifikasi primer gigi bisa dicocokkan dengan antemortem dari keluarga,” jelas Hastry.
Sebanyak 22 sampel DNA tersebut kemudian dikirim ke Jakarta untuk proses pencocokan dengan data antemortem.
Prosesnya bergantung pada kelengkapan data pembanding dari keluarga korban. Sampel pembanding dapat berasal dari orang tua kandung, saudara kandung, maupun anak.
Sejauh ini, DVI telah mengambil 91 sampel DNA dari keluarga yang melaporkan anggota keluarganya sebagai korban.
Data tersebut masih diverifikasi untuk memastikan hubungan biologis antara pelapor dan korban. Langkah itu diperlukan agar sampel pembanding yang digunakan benar-benar valid.
Enam belas jenazah yang tiba di Posko DVI pada hari ke-12 merupakan hasil evakuasi tim SAR gabungan dari dalam bangkai kapal.
Sebanyak 14 jenazah ditemukan dan dievakuasi pada Kamis. Dua lainnya telah ditemukan sehari sebelumnya, Rabu (23/9/2026).
Bersamaan dengan kedatangan jenazah tersebut, DVI juga mengumumkan enam korban yang berhasil diidentifikasi.
Enam korban tersebut yakni Deny Dwi Saputra, 32, asal Boyolali, Jawa Tengah. Abdul Fikri, 27, asal Purbalingga, Jawa Tengah dan Tuti, 29, asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kemudian, Mashudi, 27, asal Jepara, Jawa Tengah. Feris Sudaryanto, 37, asal Lampung Tengah, Lampung dan Aditya Firmansyah, 19, asal Kediri, Jawa Timur.
Metode identifikasi berbeda pada masing-masing jenazah. Deny Dwi Saputra dan Tuti diidentifikasi melalui pemeriksaan primer gigi serta ciri medis. Abdul Fikri, Feris Sudaryanto dan Aditya Firmansyah melalui ciri medis dan properti.
Sementara Mashudi diidentifikasi menggunakan sidik jari sebagai metode primer, ditambah ciri medis dan properti sebagai data sekunder.
Dengan temuan hingga hari ke-12, total 150 dari 243 orang dalam daftar penumpang dan awak atau person on board (POB) KM Virgo Transport 8 telah ditemukan.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin Bram Madya Temara mengatakan, dari 150 korban yang telah ditemukan, 108 orang dalam kondisi selamat dan 42 lainnya meninggal dunia.
Dengan demikian, masih ada 93 orang yang tercatat dalam manifes dan masih dalam pencarian.
“Untuk proses pencarian masih terus berlangsung, dengan target sesuai dengan manifes tersisa 93 orang,” kata Bram.
Pencarian masih difokuskan pada bangkai kapal, termasuk penyelaman untuk menemukan korban yang masih berada di dalam badan kapal
Namun, proses tersebut tetap mempertimbangkan keselamatan penyelam.
Kondisi di dalam bangkai kapal dan faktor kedalaman membuat tim tidak dapat memaksakan penyelaman hingga batas yang berisiko.
“Untuk fokus penyelaman kita masih laksanakan dengan batas-batas, artinya mempertimbangkan faktor risiko terhadap penyelam. Jadi kita juga belum bisa memaksakan sampai terlalu dalam masuk ke dalam badan kapal,” jelasnya.
Operasi pencarian sendiri masih akan dievaluasi setelah masa perpanjangan operasi berjalan tujuh hari.
Tim SAR akan melihat perkembangan pencarian sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Bram mengatakan pihaknya berharap seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa evaluasi tersebut berakhir.
“Syukur-syukur sudah rampung sebelum hari ketujuh. Karena apakah akan diperpanjang lagi kita belum bisa menentukan sekarang,” pungkasnya.(Yln/rdh)
