Trending

Kemarau Panjang, Petani Cabai di HST Alami Kerugian, Tanman Cabai Gagal Tumbuh

 

RUGI : Petani cabai di Desa Tanah Habang HST alami kerugian akibat kemarau/foto:istimewa

BANUATODAY.COM,BARABAI– Kemarau yang melanda Kalimantan Selatan (Kalsel) membuat petani cabai d Tanah Habang Hulu Sungai Tengah (HST) mengalami kerugian,hal ini karena  sejumlah tanaman cabai  gagal tumbuh dan tidak mampu menghasilkan buah akibat minimnya pasokan air.

Salah seorang petani, Imas, mengatakan tanaman cabai tiung mulai terdampak kekeringan sejak bulan Juli 2026.

Dari sekitar 9 borongan lahan yang disiapkan untuk ditanami cabai, hanya sekitar 2 borongan yang masih dapat ditanami dan tumbuh dengan baik.

“Kekeringan membuat banyak tanaman tidak berkembang. Bunganya juga tidak jadi dan akhirnya rontok,” jelasnya, Selasa (15/9/2026).

Untuk mempertahankan tanaman yang masih hidup, Imas bersama petani lainnya harus melakukan penyiraman secara rutin. Air untuk menyiram tanaman diperoleh dari sumur yang mereka gali di sekitar lahan.

Menurutnya, penyiraman bahkan dilakukan beberapa kali dalam sehari. Namun, ketersediaan air di sumur juga terbatas dan cepat berkurang setelah digunakan.

“Sehari bisa disiram berkali-kali. Airnya kami ambil dari sumur yang digali di sekitar lahan. Tapi air di sumur juga sedikit dan cepat kering setelah dipakai menyiram,” tambahnya.

Selain menghadapi keterbatasan air, petani tetap harus mengeluarkan biaya untuk perawatan tanaman, termasuk membeli pupuk organik dan pupuk kandang.

Namun, kondisi tanah yang kering membuat pertumbuhan tanaman tetap tidak maksimal. Daun tanaman bahkan banyak yang mengering dan rontok.

“Kalau kondisi airnya sulit seperti ini, tanaman tetap susah berkembang. Jangankan buah, bunganya saja banyak yang tidak jadi dan rontok, bahkan daunnya juga sampai habis,” bebernya.

Dampak kemarau juga membuat hasil panen cabai jauh menurun. Dari tanaman yang masih bertahan, Inur memperkirakan hanya sekitar dua kilogram cabai yang dapat dipetik.

“Paling sekitar dua kilo buah yang didapat. Karena kekeringan, bunganya tidak jadi dan banyak yang rontok. Jadi hasilnya memang jauh dari yang diharapkan,” katanya.

Sementara itu, biaya yang telah dikeluarkan untuk lahan yang gagal tumbuh diperkirakan mencapai Rp1,5 juta. Biaya tersebut meliputi pembelian bibit dan pengolahan lahan.

“Kerugiannya kira-kira Rp1,5 juta. Itu sudah termasuk biaya bibit dan pengolahan lahan,” ujarnya.

Tak hanya tanaman cabai, kemarau juga berdampak terhadap lahan persawahan di sekitar lokasi. Sejumlah lahan belum dapat ditanami padi karena kondisi tanah mengering dan pasokan air belum mencukupi.

Petani pun masih menunggu ketersediaan air untuk kembali mengolah dan menanami sawah.

Hujan yang sempat turun menjadi harapan bagi petani untuk memulihkan tanaman yang masih bertahan.

Para petani berharap hujan kembali turun secara rutin sehingga tanaman cabai dapat melanjutkan pertumbuhannya.(Frz/fsl)

Lebih baru Lebih lama