| ABU: Para warga perkotaan yang memakai masker saat diluar/Foto Oke Atmaja |
BANUATODAY.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang memengaruhi sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data Kemenkes hingga 6 September 2026, tercatat sebanyak 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun, sementara 12.988 kasus lainnya merupakan kelompok usia di atas 5 tahun.
Sebaran abu vulkanik tersebut berdampak pada empat provinsi, yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Widyawati, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi kualitas udara masih terdampak abu vulkanik.
"Kalau tidak perlu sekali, jangan keluar rumah," ujar Widyawati.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan partikel abu vulkanik.
Selain pemantauan kesehatan, pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Sebanyak 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota disiagakan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan masyarakat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, Badan Geologi mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga per 10 September 2026.
Setelah episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, aktivitas gunung api kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian.
Hingga 10 September 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 13 kali erupsi Strombolian. Badan Geologi menyatakan potensi terjadinya letusan masih perlu diwaspadai.
Potensi bahaya yang masih dapat terjadi antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Apabila erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi aliran lava.
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik juga diminta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah serta menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik. (naz/fsl)
