BANUATODAY.COM,MARTAPURA — Di balik nama Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, tersimpan sejarah panjang dan cerita rakyat yang masih dikenang masyarakat hingga kini.
Desa yang memiliki luas sekitar 750 hektare ini dikenal sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Banjar. Selain sejarah asal-usul namanya, Tungkaran juga memiliki legenda nisan berdarah serta sejumlah makam para datu yang kerap menjadi tujuan ziarah.
Namun, di tengah cerita yang berkembang, masyarakat setempat memiliki penjelasan tersendiri mengenai asal-usul nama Tungkaran Mayit.
Sekretaris Desa Tungkaran, Muhammad Helmi, mengatakan julukan tersebut kurang tepat jika digunakan untuk menggambarkan asal-usul nama desa.
Menurutnya, Tungkaran atau Tangkaran merupakan tempat pangkalan perahu, atau dalam istilah masyarakat setempat tempat menaruh jukung. Dahulu, kawasan itu juga menjadi tempat warga yang hendak berladang menyimpan perahunya.
“Tungkaran atau nama lainnya Tangkaran adalah tempat pangkalan perahu atau orang sini bilang tempat menaruh jukung para warga yang ingin berladang. Desa Tungkaran dulunya juga tempat tentara bergerilya,” ungkapnya.
Helmi menjelaskan, Desa Tungkaran merupakan hasil pemekaran dari Desa Keramat pada 1978. Kedekatan kedua desa tersebut, menurutnya, turut memengaruhi persepsi masyarakat mengenai julukan Tungkaran Mayit.
“Persepsi masyarakat dengan nama Tungkaran Mayit itu dikarenakan adanya nama Desa Keramat yang bersebelahan dengan Desa Tungkaran. Desa Tungkaran ini adalah pemekaran dari Desa Keramat pada tahun 1978,” ucapnya
Sementara itu, tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Desa Tungkaran, Syahril Hasan, memiliki penjelasan berbeda mengenai julukan tersebut.
Ia mengatakan, kawasan Tungkaran dahulu menjadi salah satu tempat pemakaman warga dari desa-desa sekitar.
“Desa ini pada zaman dulu adalah desa yang pertama kali datarannya ditinggikan oleh pemerintah. Sehingga desa tetangga lainnya, jika ada warganya yang meninggal dunia, akan dikuburkan di Desa Tungkaran,” ujarnya.
Cerita mengenai pemakaman tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas Tungkaran di tengah masyarakat.
Namun, di balik sejarah nama dan pemakaman itu, terdapat pula legenda yang lebih dikenal masyarakat, yakni nisan berdarah.
Kisah Cinta Mashor dan Fatimah
Legenda ini mengisahkan dua insan yang saling mencintai, tetapi hubungan mereka terhalang oleh perbedaan status sosial dan keputusan keluarga.
Syahril menceritakan, dua tokoh dalam kisah tersebut bernama Mashor dan Fatimah. Mashor merupakan pemuda dari keluarga kurang mampu yang bekerja di rumah orang tua Fatimah.
Meski hidup sederhana, Mashor dikenal memiliki pendidikan tinggi, budi pekerti baik, serta kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah.
Hubungan keduanya kemudian diketahui keluarga Fatimah. Keluarga tersebut berusaha menjauhkan Mashor dengan menugaskannya menjaga kebun karet dan ladang di seberang sungai.
“Fatimah dijodohkan dan dilamar oleh pemuda bernama Muhdar yang masih ada hubungan keluarga. Fatimah menentang keputusan ini, akan tetapi Fatimah tidak memiliki pilihan lain,” ungkap Syahril.
Kebakaran yang Mengubah Segalanya
Suatu ketika, musibah kebakaran menimpa rumah Fatimah. Mashor yang melihat kobaran api dari seberang sungai langsung bergegas membantu.
Ia berhasil menyelamatkan Fatimah yang sudah tidak sadarkan diri. Namun, tubuh Mashor mengalami luka bakar akibat api dan bara panas yang berjatuhan.
Setelah Fatimah berhasil dibawa keluar, Muhdar disebut merebut Fatimah dari pangkuan Mashor. Pemuda itu kemudian pingsan akibat luka yang dideritanya.
Mashor akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan secara sederhana di kawasan perkebunan karet yang kini berada di Desa Tungkaran.
“Menurut cerita, Mashor dimakamkan dengan sederhana, dengan nisan dari ulin dan dipagari dengan bambu,” lanjut Syahril.
Nisan yang Dilumuri Darah
Kabar meninggalnya Mashor membuat Fatimah bergegas mencari makamnya.
Dalam cerita yang berkembang, Fatimah datang pada malam hari ketika hujan deras.
Di tengah perjalanan, ia disebut melihat wujud Mashor dengan wajah tersenyum ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, Fatimah berlari menghampiri sosok tersebut.
Namun, ia tersandung dan terjatuh ke pagar bambu yang mengelilingi makam Mashor. Tubuhnya tertusuk hingga menyebabkan luka parah.
Darah yang mengalir kemudian disebut melumuri nisan Mashor. Fatimah pun meninggal dunia.
“Tetapi tetap cerita ini adalah legenda masyarakat setempat saja, untuk kebenarannya kita masih belum mengetahuinya,” ucap Syahril.
Legenda tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Kisahnya tidak hanya menggambarkan cinta yang terhalang, tetapi juga menjadi salah satu cerita yang mewarnai identitas Desa Tungkaran.(Yan/fsl)

