BANUATODAY.COM,BANJARBARU– Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kini menjadi tumpuan utama penerbangan dari Kalimantan Tengah dengan mencatatkan lonjakan hingga 700 penumpang ekstra setiap harinya.
Limpahan pengguna jasa penerbangan tersebut mendominasi pergerakan di terminal keberangkatan, terutama calon penumpang asal Palangkaraya, Sampit, dan sekitarnya yang memindahkan rute terbang mereka melalui Banjarmasin.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengonfirmasi lonjakan volume penumpang tersebut akibat terkendalanya operasional penerbangan di wilayah Kalteng.
"Ada kenaikan volume penumpang yang cukup mencolok. Rata-rata ada limpahan sekitar 700 penumpang ekstra per hari dari Palangkaraya dan sekitarnya yang bandaranya belum bisa beroperasi optimal," terang Millyas, Rabu (14/10/2026).
Merespons tingginya permintaan pasar penerbangan dari alih rute ini, maskapai Citilink telah menyetujui penambahan alokasi penerbangan dengan mengoperasikan satu penerbangan tambahan (extra flight) rute Banjarmasin–Surabaya.
Millyas memastikan, secara umum operasional penerbangan di Bandara Syamsudin Noor tetap berlangsung aman dan normal.
Meski kabut asap tipis masih membayangi pada pagi hari, dampaknya relatif terbatas pada armada tertentu.
"Jarak pandang (visibility) pagi hari berada di kisaran 1.500 meter. Hanya ada satu atau dua penerbangan yang mengalami penyesuaian jadwal, khususnya jenis pesawat propeller (baling-baling) seperti ATR rute Balikpapan yang disesuaikan dengan SOP maskapai," jelasnya.
Sementara itu Pekatnya kabut asap yang melumpuhkan aktivitas penerbangan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) memaksa para pelaku perjalanan udara menempuh jalur alternatif yang melelahkan.
Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kini menjadi tumpuan utama alih rute penerbangan bagi masyarakat dari provinsi tetangga.
Pengalaman berat itu dirasakan Herlina, calon jemaah umrah asal Sampit, Kotawaringin Timur.
Ia bersama rombongannya harus melintasi jalur darat selama 10 jam penuh demi bisa terbang menuju Jakarta melalui Banjarmasin.
"Berangkat jam 09.30 kemarin, jalan darat dulu dari Sampit ke Banjarmasin karena rute Sampit–Jakarta belum bisa terbang," ujar Herlina.
Herlina mengungkapkan, kondisi cuaca di kampung halamannya masih diselimuti asap pekat, terutama pada pagi hari.
Menurutnya, kondisi jarak pandang di Banjarmasin jauh lebih aman dan terang dibandingkan wilayah Kalteng.
"Kondisi di sana terakhir sama aja, ada asap. Masih pekat kalau pagi. Kalau dibandingkan sama di sini, masih terang di Banjarmasin," Pungkasnya.(Yan/fsl)

