Trending

Harga Cabai Rawit di Tapin Tembus Rp160 Ribu per Kilogram

 

CABAI: Harga Cabai rawit di Kabupaten Tapin alami kenaikan signifikan, sekarang harganya capai 160 ribu perkilo/foto:istimewa

BANUATODAY.COM,RANTAU– Harga cabai rawit merah di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, terus merangkak naik. Pada 20 Oktober 2026, harganya menembus Rp160 ribu per kilogram. Kenaikan ini dipicu berkurangnya produksi pertanian di tengah kemarau panjang yang disertai kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Tapin, Walaidi Rakhmat, mengatakan cabai rawit merah menjadi komoditas yang mengalami kenaikan harga paling signifikan. Kondisi serupa juga terjadi pada cabai merah keriting dalam beberapa pekan terakhir.

“Berdasarkan pemantauan harga, cabai rawit merah yang pada 1 September 2026 berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, kini mencapai Rp120 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).

Berdasarkan perbandingan harga rata-rata, cabai rawit merah mengalami kenaikan sekitar 55,56 persen dalam periode tersebut. Lonjakan ini menunjukkan tekanan pasokan mulai berdampak pada harga komoditas yang banyak dibutuhkan masyarakat.

Tak hanya cabai rawit merah, harga cabai merah keriting juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, komoditas tersebut dijual Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Kini, harganya berkisar Rp55 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Walaidi menjelaskan, berkurangnya produksi menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga cabai. Kemarau panjang menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan sehingga produktivitas tanaman menurun. Ancaman karhutla turut menambah tekanan terhadap sektor pertanian.

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, Dinas Perdagangan Tapin memastikan belum menemukan kelangkaan bahan pokok yang mengganggu pemenuhan kebutuhan masyarakat secara umum. Pasokan kebutuhan pokok di pasaran masih mencukupi, meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga.

“Dinas Perdagangan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar secara berkala untuk mengantisipasi kenaikan lebih lanjut di tengah kondisi cuaca yang belum membaik,” katanya.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap mewaspadai kemungkinan kenaikan harga lanjutan apabila kemarau berlangsung lebih lama. Pasalnya, pemulihan produksi pertanian membutuhkan kondisi cuaca yang mendukung.

Kadis menyebutkan, pasar murah dapat menjadi salah satu langkah intervensi apabila kenaikan harga semakin membebani masyarakat. Pelaksanaannya akan dipertimbangkan sesuai perkembangan kondisi di lapangan dan kebutuhan masyarakat.

“Kami akan mempertimbangkan pelaksanaan pasar murah apabila kenaikan harga semakin membebani masyarakat dan diperlukan intervensi pemerintah,” ujarnya.

Ia memperkirakan harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting masih berisiko meningkat dalam beberapa pekan ke depan apabila produksi belum kembali normal.

Karena itu, perkembangan pasokan cabai menjadi perhatian pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga. Di tengah ancaman kemarau dan karhutla, pemantauan pasar serta langkah antisipasi dinilai penting agar kenaikan harga tidak semakin menekan daya beli masyarakat.(Frz/arf)

Lebih baru Lebih lama