Trending

Mengapa Korban Toxic Relationship Bertahan? Dinamika Manipulasi dan Dampak Kekerasan



TULISAN OPINI ILMIAH  

Eunike Lisi Cintani Putri, S.Psi 

Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University, Semarang



1. Memahami Situasi Korban: Menghapus Kebiasaan Menyalahkan (Victim Blaming) 

Tidak jarang orang mempertanyakan mengapa korban kekerasan dalam hubungan enggan segera pergi meninggalkannya.Padahal, pertanyaan semacam ini malah terkesan menyudutkan korban. Banyak yang keliru menganggap bahwa mereka bertahan karena merasa lemah atau sedang "buta karena cinta", padahal kenyataannya sama sekali tidak demikian.. Korban sulit pergi bukan karena lemah, melainkan karena mereka sudah dimanipulasi secara emosional oleh pelakunya.

Dutton dan Painter (1981), menjelaskan fenomena ini melalui sebuah konsep yang disebut ikatan traumatis (traumatic bonding). Menurut mereka, korban justru bisa memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan pelakunya karena dua hal utama:

  • Kendali yang berat sebelah: Pelaku memegang kendali penuh dan terlalu mendominasi korban.
  • Sikap pelaku yang "tarik-ulur": Pelaku tidak selalu bersikap jahat setiap saat. Kadang ia sangat kasar dan menyakiti, tapi di lain waktu ia bisa berubah menjadi sangat manis, meminta maaf, dan penuh perhatian. 
2. Cara Pelaku Mengikat Korban secara Emosional 

Berbagai penelitian mengungkap bahwa korban kekerasan sering kali sulit pergi karena terjebak dalam permainan psikologis pelakunya. Berikut adalah lima alasan mengapa korban bisa sangat terikat pada hubungan yang merusak:

  • Sikap "Tarik-Ulur" yang Membingungkan: Pelaku sering kali bermuka dua. Kadang ia bisa sangat romantis, manis, dan perhatian, tapi tiba-tiba berubah menjadi sangat kasar dan manipulatif. Pola yang terus berulang ini membuat korban kebingungan. Korban akhirnya bertahan karena terus berharap sisi baik pasangannya akan kembali lagi.
  • Memanfaatkan Luka Masa Lalu: Pelaku biasanya pintar mengorek cerita sedih atau trauma masa lalu korban agar terlihat peduli dan merasa "senasib". Namun, setelah korban percaya dan luluh, rahasia atau kelemahan inilah yang dijadikan senjata oleh pelaku untuk menyerang balik, membenarkan sikap kasarnya, atau membuat korban merasa bersalah.
  • Lebih Takut Berpisah daripada Disakiti: Ada orang yang sangat takut menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Saat pasangannya berbuat kasar, mereka lebih memilih menoleransi perlakuan tersebut atau mencari-cari kesalahan diri sendiri asalkan hubungannya tidak hancur. Bagi mereka, menjadi lajang atau berpisah terasa jauh lebih menakutkan.
  • Empati yang Menjadi Bumerang: Korban yang berhati lembut dan terlalu empati sering kali mencoba memahami kenapa pasangannya bisa bersikap kasar (misalnya karena stres atau masa kecil yang kelam). Alih-alih menyelamatkan diri, mereka malah merasa kasihan dan merasa bertanggung jawab untuk "menyembuhkan" atau mengubah pasangannya menjadi lebih baik.
  • Sayang dengan Pengorbanan Selama Ini: Korban merasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu, tenaga, perasaan, hingga materi demi mempertahankan hubungan tersebut. Semakin lama bertahan, semakin berat bagi mereka untuk pergi karena tidak rela jika semua pengorbanannya selama ini berujung sia-sia. 
3. Dampak Menyeluruh dari Kekerasan Relasional (Abuse)

Paparan kekerasan dalam relasi romantic menimbulkan dampak negatif yang nyata pada berbagai aspek kehidupan korban:

  • Dampak Psikologis: Korban mengalami stres berat, kecemasan berlebih, perasaan tidak tenang, penurunan harga diri, ketakutan, hingga munculnya perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) akibat tekanan emosional yang tidak tertampung.
  • Dampak Fisik: Penyakit atau keluhan fisik yang muncul akibat stres kronis dan kekerasan langsung, seperti sesak napas, gangguan pencernaan/asam lambung, kelelahan kronis, penurunan berat badan secara drastis, hingga cedera fisik dan luka lebam.
  • Dampak Sosial: Pelaku secara bertahap membatasi pergaulan korban, melarang interaksi dengan teman, dan memantau akun media sosial. Isolasi ini membuat korban terputus dari keluarga dan teman-teman, sehingga pelaku menjadi satu-satunya tempat korban bergantung.
  • Dampak Akademik dan Kehidupan Sehari-hari: Pada mahasiswa atau dewasa muda, energi yang habis terkuras oleh konflik hubungan berdampak langsung pada penurunan nilai/IPK, sering tidak hadir di kelas, keterlambatan studi, hingga terancam putus kuliah.
4. Langkah Penanganan dan Pemulihan

Penanganan kasus kekerasan dalam hubungan memerlukan pendekatan yang tepat:

  • Mengubah Pola Pikir Masyarakat: Edukasi publik harus digeser dari menyalahkan korban menjadi mengenali taktik kontrol dan manipulasi yang dijalankan oleh pelaku.
  • Memulihkan Kemandirian Korban: Korban sebenarnya sudah menyadari bahwa hubungan tersebut merugikan. Oleh karena itu, bantuan psikologis harus difokuskan pada memulihkan harga diri, menetapkan batas pribadi yang tegas, serta membangun kembali jaringan dukungan dari teman dan keluarga.
  • Pendekatan Konseling/Psikoterapi yang Aman: Dalam proses terapi pasang surut atau konseling, tenaga profesional harus terlebih dahulu memastikan keselamatan korban. Terapi kelompok atau pasangan hanya dapat dilakukan jika tidak ada ancaman kontrol yang membahayakan, dan pelaku wajib mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan kekerasannya.
Penutup:

Korban bertahan dalam hubungan toxic bukan karena kelemahan diri, melainkan karena terjebak dalam manipulasi emosional dan psikologis dari pelaku. Kekerasan ini terbukti membawa dampak buruk yang menyeluruh bagi korban, mulai dari masalah mental, penyakit fisik, rusaknya hubungan sosial, hingga terganggunya pendidikan atau pekerjaan. Oleh sebab itu, penanganan yang tepat harus difokuskan pada menghentikan kebiasaan menyalahkan korban, memulihkan kemandirian mereka, dan memberikan ruang konseling atau psikoterapi. 

Dukungan dan pemahaman yang tepat dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar korban dapat kembali mandiri dan keluar dari hubungan tersebut dengan aman.  

Sumber:

Almeida, I., Nobre, C., Marques, J., & Oliveira, P. (2023). Violence against Women: Attachment, Psychopathology, and Beliefs in Intimate Partner Violence. Social Sciences, 12(6), 346. https://doi.org/10.3390/socsci12060346

Anriani, C., & Kurniawan, R. (2026). Bertahan Dalam Hubungan Pacaran Yang Toxic : Sebuah Pendekatan Analisis Tematik. Science and Education Journal (SICEDU), 5(3), 1230–1243. https://doi.org/10.31004/sicedu.v5i3.1354 

Dutton, D. G., & Painter, S. L. (1981). Traumatic Bonding: The development of emotional attachments in battered women and other relationships of intermittent abuse. Victimology: An International Journal, 7(4), 139-155.

Effiong, J. E., Ibeagha, P. N., & Iorfa, S. K. (2022). Traumatic bonding in victims of intimate partner violence is intensified via empathy. Journal of Social and Personal Relationships, 39(12), 3619–3637. https://doi.org/10.1177/02654075221106237.

Gibby, J. G., & Whiting, J. B. (2022). Insecurity, control, and abuse: What attachment theory can teach us about treating intimate partner violence. Contemporary Family Therapy, 44(3), 323–335. https://doi.org/10.1007/s10591-021-09623-4

Isaiah, U. S., Effiong, J. E., Udokang, I., Ogwuche, S., Udoukok, E. N., & Iorfa, S. K. (2024). Need for closure is linked with traumatic bonding among victims of intimate partner violence: A mediation approach. Journal of Social and Personal Relationships, 41(7), 20062022. https://doi.org/10.1177/02654075241234074

Lesiak, M., & Gelsthorpe, L. (2026). The Invisible Abuser: Attachment, Victimization, and Perpetrator in Repeat Abuse. Violence Against Women, 32(11), 41954214. https://doi.org/10.1177/10778012251379423
Lebih baru Lebih lama