ASAP: Warga melintas di kawasan RTH Alun-Alun Martapura yang diselimuti kabut asap tebal, beberapa waktu lalu/foto:yuandaBANUATODAY.COM,BANJAR -Bencara kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kabuapten Banjar membuat penyakit infeksi saluran perrnapasan akut (ispa) merajalela, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat rekor kelam. Hingga Selasa (27/10/2026), jumlah warga yang terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kategori sedang hingga berat telah menembus angka 15.138 kasus.
Kepala Dinkes Kabupaten Banjar, Noripansyah, menegaskan bahwa angka belasan ribu tersebut masih berpotensi merangkak naik selama kondisi kualitas udara belum pulih seratus persen.
“Kasus ISPA di Kabupaten Banjar masih tinggi meski sudah turun hujan di sejumlah wilayah. Dampak Karhutla terhadap kesehatan masyarakat masih sangat dirasakan,” ungkap Noripansyah saat dikonfirmasi, Selasa (27/10).
Bencana kesehatan di Kabupaten Banjar rupanya bukan hanya perkara asap. Darurat kekeringan yang menyertai Karhutla turut melahirkan ancaman penyakit lain.
Noripansyah menyoroti tren peningkatan kasus diare dan gangguan pencernaan yang linier dengan sulitnya akses air bersih di kawasan terdampak.
Meski suplai air bersih terus digelontorkan oleh BPBD dan instansi terkait, distribusi yang belum sepenuhnya merata membuat sebagian warga terpaksa menggunakan air dengan sanitasi seadanya.
“Masih ada beberapa daerah yang belum terjangkau air bersih. Ini menjadi salah satu persoalan yang harus diperhatikan karena kekurangan air bersih dapat meningkatkan risiko diare dan penyakit pencernaan lainnya,” bebernya.
Di bulan Juli saja tercatat 608 kasus diare yang dialami warga Kabupaten Banjar. Angka tersebut meningkat menjadi 630 kasus di bilan Agustus. Bahkan di bulan September kasus diare tembus 748 kasus.(Yan/fsl)
