![]() |
| EDUKASI: Edukasi program kampanye keselamatan - Foto Istimewa |
BANUATODAY.COM, JAKARTA - Jasa Raharja terus menghadirkan pendekatan baru dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas dengan menggandeng aparatur kecamatan dan desa di berbagai wilayah Indonesia. Melalui program kampanye keselamatan yang dilaksanakan serentak di 52 loket, Jasa Raharja mendorong terbentuknya agen-agen keselamatan di tingkat akar rumput untuk memperkuat budaya tertib berlalu lintas di komunitas masing-masing.
Program bertajuk “Intensifikasi Keselamatan Transportasi Berbasis Domisili Korban melalui Pemberdayaan Aparatur Kecamatan dan Desa” ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan bertema “Keselamatan untuk Indonesia Maju”.
BACA JUGA: Gebyar Panutan Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 2025
Inisiatif tersebut dirancang untuk memperkuat strategi keselamatan transportasi berbasis domisili korban sebagai pendekatan baru yang lebih menyasar perubahan perilaku masyarakat. Selama ini, program keselamatan banyak berfokus pada penanganan 10 titik rawan kecelakaan teratas, namun dominasi kasus yang disebabkan human error menunjukkan perlunya langkah yang lebih komprehensif hingga ke tataran komunitas.
Aparatur kecamatan dan desa dinilai memiliki posisi strategis dalam pendekatan ini. Dengan kedekatan sosial serta pemahaman mendalam terhadap karakteristik wilayah, mereka dipandang mampu menjadi Agen Keselamatan Transportasi yang efektif. Kehadiran aparatur tersebut memungkinkan proses edukasi, pengawasan, dan pendampingan dilakukan lebih intensif dan berkelanjutan. Pendekatan socio engineering melalui aparatur lokal juga membuka peluang multiplier effect, di mana satu aparatur dapat menjangkau ratusan warga di wilayahnya.
Plt. Direktur Utama Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen perusahaan untuk melayani sepenuh hati dalam memperkuat kampanye keselamatan yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Kami ingin memastikan program keselamatan berjalan dari tingkat komunitas, dipimpin oleh figur yang dihormati masyarakat setempat. Pendekatan berbasis domisili korban membantu kami melihat pola risiko secara lebih jelas, sehingga intervensi dapat diberikan di tempat yang paling membutuhkan,” ujar Dewi.
Program ini difokuskan pada tiga peringkat teratas kecamatan domisili korban kecelakaan di 10 wilayah pareto nasional, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra Utara, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Banten, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. Total terdapat 156 kecamatan sasaran dengan estimasi 10.920 aparatur kecamatan dan desa yang terlibat sebagai Agen Keselamatan Transportasi.
Pelaksanaan kegiatan dimulai sejak November hingga Desember 2025, menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk kepolisian dan pakar keselamatan transportasi. Setiap sesi mencakup sejumlah tahapan kunci, yaitu:
1. Sosialisasi data oleh Jasa Raharja untuk meningkatkan kesadaran risiko.
2. Edukasi solusi oleh kepolisian, Jasa Raharja, dan para ahli untuk memperkuat pemahaman.
3. Diskusi interaktif guna menghasilkan ide konkret di wilayah masing-masing.
4. Deklarasi komitmen sebagai penguatan moral untuk menjalankan peran sebagai agen keselamatan.
Dewi menegaskan bahwa pemahaman mengenai pola risiko dan kondisi sosial masyarakat sangat penting sebelum melakukan intervensi keselamatan.
“Pendekatan keselamatan harus berangkat dari pemahaman yang utuh tentang pola risiko dan kondisi sosial masyarakat. Karena itu, keterlibatan aparatur kecamatan dan desa menjadi kunci agar pesan keselamatan tidak hanya disampaikan, tetapi benar-benar dihidupi oleh warga dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
BACA JUGA: Bupati Balangan Pimpin Penandatanganan Kerja Sama Penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik
Dengan pendekatan berbasis domisili korban serta pemberdayaan aparatur lokal, program ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem keselamatan yang lebih menyentuh perilaku masyarakat secara langsung. Jasa Raharja menargetkan peningkatan pemahaman peserta, implementasi rencana aksi berkelanjutan, serta penurunan angka kecelakaan di wilayah prioritas.
Melalui kolaborasi yang lebih intensif dengan pemangku kepentingan lokal, Jasa Raharja optimistis transformasi budaya keselamatan dapat berjalan lebih cepat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Sumber: Jasa Raharja

