![]() |
| LESTARIKAN: Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kalimantan Selatan/Foto Biro Adpim. |
BANUATODAY.COM, BANJARMASIN – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Hj Fathul Jannah Muhidin, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus melestarikan kebaya dan kain sasirangan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa dan daerah. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Seminar Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di Hotel Roditha Banjarmasin, Selasa (21/7).
Dalam kesempatan itu, Hj Fathul Jannah tampil mengenakan kebaya berwarna biru tua yang dipadukan dengan kain sasirangan khas Kalimantan Selatan. Penampilannya mencerminkan komitmen dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Banua di tengah perkembangan zaman.
Seminar tersebut merupakan hasil kolaborasi TP PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalsel, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, serta Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diikuti berbagai organisasi perempuan, mulai dari Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Dharma Wanita Persatuan, hingga TP PKK kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Dalam sambutannya, Hj Fathul Jannah yang juga menjabat sebagai Ketua Dekranasda Kalsel mengatakan bahwa peringatan Hari Kebaya Nasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap kebaya sebagai simbol jati diri perempuan Indonesia.
"Kebaya bukan hanya pakaian tradisional, tetapi juga mencerminkan keanggunan, kesopanan, ketangguhan, serta identitas perempuan Indonesia yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang," ujarnya.
Ia menjelaskan, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 serta pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO semakin mempertegas pentingnya upaya pelestarian budaya tersebut.
Menurutnya, di Kalimantan Selatan kebaya memiliki nilai lebih ketika dipadukan dengan kain sasirangan sebagai wastra khas daerah. Kombinasi keduanya dinilai mampu memperkuat identitas Banua tanpa meninggalkan akar budaya nasional.
"Perpaduan kebaya dan sasirangan tidak hanya memperlihatkan keindahan busana, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas Kalimantan Selatan," katanya.
Melalui seminar tersebut, Hj Fathul Jannah berharap para peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai sejarah, filosofi, hingga ragam kebaya agar tetap relevan digunakan di berbagai kesempatan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Ia juga menilai pelestarian kebaya dan sasirangan memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor fesyen dan kriya. Karena itu, TP PKK bersama Dekranasda Kalsel terus berkomitmen memberikan pembinaan, pelatihan, promosi, dan pemberdayaan bagi para perajin agar mampu meningkatkan daya saing produknya.
"Kami berharap Hari Kebaya Nasional dapat menjadi inspirasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin bangga mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan. Dengan begitu, kebaya tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat," ucapnya.
Seminar menghadirkan desainer sekaligus pengamat mode Hj Kathrin Ambarsari sebagai narasumber. Kegiatan juga diramaikan dengan peragaan busana dari perwakilan organisasi perempuan se-Kalimantan Selatan sebelum ditutup dengan penampilan Hj Fathul Jannah yang memperagakan kebaya dipadukan kain sasirangan.
Usai kegiatan, Hj Fathul Jannah kembali menegaskan harapannya agar peringatan Hari Kebaya Nasional mampu menjadi dorongan bagi perkembangan UMKM dan para perajin lokal, khususnya yang bergerak di bidang kebaya dan kain sasirangan.
"Semoga kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin mencintai dan melestarikan kebaya serta kain sasirangan sebagai kebanggaan Kalimantan Selatan," tutupnya. (naz/fsl)

