Trending

3.050 Peserta Ikuti Baayun Maulid Banua Halat, dari Bayi 15 Hari hingga Lansia 90 Tahun

 

BAAYUN MAULID: Baayun Maulid di Masjid Keramat Al Mukaromah Kabupaten Tapin diikuti oleh ribuan peserta./foto:riza

BANUATODAY.COM,RANTAU– Ribuan masyarakat memadati kawasan Masjid Keramat Al Mukaromah, Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Selasa (25/08).

Sebanyak 3.050 peserta mengikuti tradisi Baayun Maulid dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pesertanya pun berasal dari berbagai kalangan usia. Bahkan, peserta termuda baru berusia 15 hari.

Ketua Panitia Pelaksana, Ahmad Suriansyah menyampaikan, peserta termuda tersebut atas nama Naura Kiftia, warga Kecamatan Tapin Utara.

Sementara peserta tertua berusia 90 tahun. Yakni Hj Faridah, warga Banjarmasin.

“Yang tertua umur 90 tahun dari Banjarmasin atas nama Hj Faridah. Yang paling muda berusia 15 hari, dari Kecamatan Tapin Utara atas nama Naura Kiftia,” ujarnya.

Tak hanya dari Kalimantan Selatan, Baayun Maulid Banua Halat juga diikuti peserta dari luar daerah. Peserta dengan jarak tempuh paling jauh tercatat berasal dari Jakarta, atas nama Muzdalifah.

Ribuan ayunan terlihat memenuhi kawasan Masjid Keramat Al Mukaromah. Peserta datang bersama keluarga, mengikutsertakan anak-anak hingga orang tua untuk mengikuti tradisi yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Banjar tersebut.

Kegiatan semakin khidmat dengan ceramah agama yang disampaikan KH Ahmad Syairazi, pengasuh Pondok Pesantren Dalam Pagar Kandangan sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan masa khidmat 2026–2031.

Bupati Tapin H Yamani mengatakan, Baayun Maulid memiliki nilai spiritual dan filosofis yang kuat bagi masyarakat Banjar.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur, doa, dan harapan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak.

“Saya mengajak kita semua untuk menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Terlebih di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, nilai-nilai keagamaan, kesopanan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama harus terus dijaga.

“Prosesi Baayun Maulid merupakan salah satu tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Banjar yang memiliki nilai spiritual dan filosofis yang kuat,” ujarnya.

Yamani berharap tradisi tersebut terus dilestarikan. Tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tradisi ini jangan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia juga berharap jumlah peserta dan antusiasme masyarakat terhadap Baayun Maulid terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sebab, melalui tradisi tersebut, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menjaga nilai-nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya.

Rentang usia peserta yang mencapai 15 hari hingga 90 tahun menjadi gambaran kuat bahwa Baayun Maulid masih menjadi tradisi yang mampu mempertemukan berbagai generasi dalam satu kegiatan keagamaan dan kebudayaan.(frz/fsl)

Lebih baru Lebih lama