Trending

Asap Karhutla Ancam Kesehatan, Balita dan Lansia Jadi Kelompok Paling Rentan

 

ANCAM :Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ratu Zalecha, drg. Rahimayanti saat menjelaskan soal bahaya asap Karhutla/foto:yuanda

BANUATODAY.COM,MARTAPURA – Memasuki musim kemarau yang disertai meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), RSUD Ratu Zalecha Kabupaten Banjar mulai mencatat peningkatan kasus gangguan pernapasan, terutama pneumonia. Meski demikian, lonjakan kasus dinilai masih terkendali dan belum sebesar saat terjadi kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ratu Zalecha, drg. Rahimayanti, mengatakan sebagian besar pasien dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas dan klinik. Pasien yang dirujuk ke rumah sakit umumnya telah mengalami kondisi yang lebih berat atau memiliki penyakit penyerta.

"Kasus ISPA sebagian besar selesai ditangani di puskesmas atau klinik. Pasien yang dirujuk ke rumah sakit tipe B seperti RSUD Ratu Zalecha umumnya sudah mengarah ke pneumonia atau memiliki penyakit penyerta lainnya, sehingga ISPA bukan lagi diagnosis utamanya," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Rahimayanti, tren kasus pneumonia memang mengalami peningkatan sejak musim kemarau mulai berlangsung. Namun, kenaikannya belum tergolong signifikan karena penanganan dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama berjalan cukup efektif.

"Memang ada peningkatan, tetapi tidak terlalu signifikan. Penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah cukup cepat sehingga dampaknya tidak sebesar kejadian kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.

Data RSUD Ratu Zalecha menunjukkan, sejak pertengahan Juli 2026 tercatat sebanyak 59 kasus pneumonia. Sementara secara kumulatif sejak Januari hingga awal Agustus 2026, jumlahnya telah mencapai 383 kasus.

Gejala yang paling sering dikeluhkan pasien meliputi batuk, pilek, dan sesak napas. Kondisi tersebut perlu diwaspadai masyarakat, terutama ketika kualitas udara menurun akibat paparan asap karhutla.

Selain gangguan pernapasan, rumah sakit juga mencatat peningkatan kasus diare selama musim kemarau. Meski demikian, jumlah kasusnya masih berada dalam tren yang relatif sama dengan pneumonia dan belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

Rahimayanti menyebut bayi, balita, dan lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah dibanding kelompok usia lainnya.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk membiasakan mencuci tangan dengan benar serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang terdampak asap karhutla.

"Pencegahan tetap menjadi langkah utama. Biasakan mencuci tangan dengan benar dan gunakan masker saat berada di daerah yang banyak asap agar saluran pernapasan lebih terlindungi," pungkasnya.(yan/rdh)

Lebih baru Lebih lama