Trending

BNPB Catat 87 Orang Meninggal dalam Gempa M7,7 NTT, 53.971 Rumah Rusak

PENANGANAN: Para tenaga medis yang sedang membantu korban bencana gempa NTT/Foto Bidang Komunikasi Kebencanaan/Muhammad Arfari Dwiatmodjo


BANUATODAY.COM, KUPANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat penanganan darurat dan pendataan kerusakan pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).

Berdasarkan pemutakhiran data Pos Pendamping Nasional yang dikoordinasikan BNPB, hingga Sabtu (22/8) pukul 16.00 WIB tercatat 87 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten, yakni 31 orang di Kabupaten Manggarai, 30 orang di Manggarai Timur, 13 orang di Nagekeo, sembilan orang di Sikka, empat orang di Ngada, dua orang di Ende, dan satu orang di Manggarai Barat.

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.298 orang mengalami luka-luka, terdiri atas 336 orang luka berat, 61 luka sedang, 895 luka ringan, dan enam orang masih dalam proses pendataan.

Sementara itu, jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 150.576 orang. Mereka tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 41.427 orang, Nagekeo 34.256 orang, Manggarai Timur 31.372 orang, Manggarai Barat 19.954 orang, Sikka 17.587 orang, Ende 3.429 orang, dan Ngada 2.551 orang.

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan permukiman warga. BNPB mencatat sebanyak 53.971 unit rumah mengalami kerusakan berdasarkan pembaruan data hari kedelapan atau per Sabtu (22/8).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 19.006 rumah masuk kategori rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan.

Kerusakan tercatat di tujuh kabupaten terdampak, yakni Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan Sikka.

BNPB menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara karena proses verifikasi dan validasi di lapangan masih berlangsung. Pendataan dilakukan secara paralel dengan penanganan fase tanggap darurat untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Data sementara by name by address (BNBA) hingga tingkat desa telah diperoleh di enam kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Sementara proses penginputan data di Kabupaten Manggarai masih berlangsung.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto sebelumnya menyampaikan pemerintah menyiapkan dukungan berdasarkan kategori kerusakan rumah.

Untuk rumah rusak ringan, BNPB menyiapkan bantuan sebesar Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang mendapatkan dukungan Rp30 juta.

Adapun warga dengan rumah rusak berat disiapkan dua alternatif tempat tinggal sementara, yakni hunian sementara (huntara) atau Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu, sembari menunggu pembangunan hunian tetap (huntap).

Namun, bantuan tersebut baru dapat direalisasikan setelah proses pendataan serta verifikasi tingkat kerusakan selesai dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak. BNPB mencatat sejak 15 hingga 22 Agustus 2026 sebanyak 954.438 kilogram atau sekitar 954 ton bantuan logistik telah didistribusikan dari Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo dan Maumere.

Bantuan tersebut mencakup kebutuhan dasar masyarakat, perlengkapan tempat tinggal sementara, kebutuhan kesehatan, perlengkapan bayi dan kebersihan, hingga peralatan pendukung penanganan darurat.

Selain distribusi melalui jalur udara, BNPB juga menyiapkan pengiriman bantuan melalui jalur laut menggunakan KRI Semarang-594 dengan muatan sekitar 147 ton untuk tujuan Labuan Bajo.

Pada 23 Agustus, BNPB juga menyiapkan distribusi udara tambahan sekitar 37 ton bantuan menggunakan satu pesawat Airbus dan dua Boeing menuju Labuan Bajo dan Maumere.

Sementara itu, aktivitas kegempaan susulan masih menjadi perhatian. BNPB mencatat hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB telah terjadi 5.012 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, 124 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

Untuk mendukung pelayanan kesehatan, KRI dr. Soeharso-990 telah bersandar di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai. Tim medis kemudian mendirikan rumah sakit lapangan di Waso dan Wangkong, Kecamatan Reok. Kapal tersebut juga memiliki fasilitas rawat inap dengan kapasitas hingga 75 pasien.

BNPB bersama pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait hingga kini masih melakukan penanganan darurat, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, serta verifikasi kerusakan rumah secara bersamaan.

Pendataan tersebut menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pemulihan dan bentuk dukungan pemerintah bagi masyarakat terdampak, sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran dan berdasarkan kondisi faktual di lapangan. (naz/fsl)

Lebih baru Lebih lama