BANUATODAY.COM,MARTAPURA – Kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu tantangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Martapura dalam menjaga kualitas kredit.
Direktur Pemasaran dan Bisnis BPR Martapura, Irhamdi, S.Sos., mengatakan, kredit bermasalah merupakan hal yang tidak dapat sepenuhnya dihindari dalam bisnis perbankan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti nasabah kehilangan kemampuan untuk membayar.
Menurutnya, sebagian nasabah masih memiliki kemampuan dan kemauan membayar, tetapi jumlah cicilan yang dibayarkan tidak lagi sesuai dengan perjanjian akibat penurunan pendapatan.
“Contohnya dalam perjanjian kredit masyarakat diminta membayar Rp500 ribu setiap bulan. Karena usahanya menurun, akhirnya hanya mampu membayar Rp300 ribu. Selisih Rp200 ribu itu kemudian menjadi tunggakan,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Irhamdi, banyak terjadi pada pelaku usaha kecil dan sektor produktif, terutama pertanian. Ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap hasil kebun dan pertanian membuat mereka cukup rentan ketika terjadi kemarau panjang maupun banjir.
Ketika hasil pertanian menurun, dampaknya turut dirasakan pedagang dan sektor usaha lain yang bergantung pada perputaran ekonomi masyarakat.
Meski demikian, BPR Martapura tetap memberikan ruang bagi nasabah untuk kembali memenuhi kewajibannya ketika kondisi usaha mulai membaik.
“Kalau usahanya sudah normal, dia akan dicicil kembali,” katanya.
Di tengah tantangan tersebut, BPR Martapura juga harus menghadapi persaingan dengan bank umum dan maraknya pinjaman online.
Untuk mempertahankan nasabah, strategi yang diterapkan tidak hanya mengandalkan layanan di kantor. Petugas justru lebih aktif turun langsung ke lapangan dan bertemu masyarakat.
“Kami menggunakan strategi turun ke lapangan, langsung bertemu masyarakat agar tidak kehilangan nasabah,” ungkapnya.
Selain pendekatan langsung, BPR Martapura juga menawarkan tingkat bunga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan pinjaman online.
Saat ini, jumlah nasabah BPR Martapura disebut berada di kisaran 2.000 nasabah, termasuk nasabah dari wilayah layanan lainnya.
Irhamdi menegaskan, peningkatan jumlah nasabah, penyaluran kredit, penghimpunan dana dan laba menjadi bagian dari target yang terus dikejar manajemen sesuai RBB.
“Tim kami selalu mencari solusi untuk peningkatan, baik dari segi jumlah nasabah maupun jumlah kredit,” pungkasnya.(yan/fsl)

