BANUATODAY.COM,BANJARMASIN- Keberadaan puluhan ribu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Banjarmasin masih menyisakan pekerjaan rumah. Mulai dari pembinaan yang belum merata, akses permodalan hingga penguatan pemasaran berbasis digitalisasi.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Banjarmasin, Machli Riyadi menyebut terdapat 64.491 UMKM di Kota Seribu Sungai.
Data tersebut ditarik melalui sistem Online Single Submission (OSS) dan telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
Namun, dari jumlah tersebut, pembinaan UMKM yang dilakukan Pemerintah Kota Banjarmasin baru menjangkau sekitar 30–35 persen.
Menurutnya, pembinaan harus dilakukan secara bertahap, mengingat secara keseluruhan jumlah UMKM yang harus ditangani cukup besar.
“Yang dibina sekarang memang tidak secara keseluruhan, karena jumlahnya sangat banyak sekali. Kita bertahap,” ujarnya, saat temu kemitraan sekaligus peringatan Hari UMKM Nasional di Banjarmasin, Rabu (12/8/2026).
Pembinaan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, hingga kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan pemasaran digital.
Selain pelatihan, Pemko juga berupaya mempertemukan pelaku UMKM dengan pengusaha yang lebih besar.
Langkah tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama dan memperluas jaringan pemasaran.
“Harapannya dengan bertambahnya pengetahuan dan keterampilan, kita bisa memfasilitasi mereka. Termasuk mempertemukan pengusaha dengan UMKM supaya bisa terbangun kolaborasi,” katanya.
Besarnya jumlah UMKM membuat pembinaan tidak bisa diselesaikan dalam satu tahun. Kendalanya adalah keterbatasan anggaran pemerintah daerah. Maka, pembinaan dilakukan secara berkesinambungan.
Machli menegaskan, kegiatan pelatihan dalam agenda pemerintah terus digenjot. Terutama memaksimalkan keterjangkauan pelaku usaha yang belum tersentuh pembinaan oleh pemerintah.
Di sisi lain, akses permodalan juga masih menjadi tantangan. Program bantuan permodalan seperti UMARA dari Pemko Banjarmasin belum banyak dimanfaatkan pelaku UMKM.
Dari pengajuan awal, baru tiga usaha yang dinyatakan lolos. Sementara itu, saat ini terdapat 21 pengajuan baru yang sedang diproses.
Machli menyebut salah satu kendalanya adalah banyak pelaku UMKM sudah terlanjur memiliki pinjaman modal perbankan. Terutama melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Kebanyakan mereka sudah pinjam modal di KUR perbankan. Ini yang membuat mereka masih terikat kredit, sehingga kami evaluasi,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu melihat kembali skema pembinaan dan permodalan agar program yang tersedia dapat lebih mudah diakses pelaku UMKM.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Banjarmasin, M Akbar Utomo Setiawan menyebut sejumlah program memperkuat posisi UMKM terus diluncurkan. Langkahnya terkonsentrasi pada produk, pemasaran dan digitalisasi.
Salah satu dukungan dengan memberikan penyelenggaraan bazar UMKM secara gratis. Dalam setahun, Kadin menargetkan menggelar enam hingga tujuh event.
“Kita buka bazar dan kita usahakan secara gratis,” ucapnya.
Menurut Akbar, perkembangan UMKM di Banjarmaisn saat ini mulai terlihat dari cara pelaku usaha menjual produk, memberikan pelayanan, hingga mengembangkan variasi menu.
Pelaku UMKM juga dinilai mulai mampu mengikuti tren yang berkembang di sejumlah kota lain.
Namun, perkembangan tersebut masih perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas agar produk lokal dapat bersaing lebih luas.
Kadin Banjarmasin berencana menggandeng Kadin dari luar Kalimantan untuk menghadirkan pelatihan bagi pelaku UMKM.
Materinya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan usaha agar bisa sejajar dengan UMKM dari daerah lain.
“Rencananya kami akan memberikan pelatihan, mungkin bekerja sama dengan Kadin dari luar Kalimantan. Bagaimana UMKM di Kota Banjarmasin bisa sejajar dengan yang ada di luar,” ungkapnya.
Selain kemampuan usaha, Akbar menyoroti persoalan kemasan yang dinilai masih perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, kemasan menjadi bagian pertama yang dilihat konsumen sebelum memutuskan membeli sebuah produk.
Karena itu, Kadin berencana memberikan pelatihan pengemasan sekaligus menjajaki kemungkinan mendatangkan peralatan yang dapat membantu UMKM menghasilkan kemasan lebih baik.
Program tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun depan, setelah tahun ini digunakan untuk memetakan kebutuhan pelaku UMKM.
“Memang kemasan juga sangat kita perhatikan. Karena itu yang menjadi sampul pertama saat orang mau membeli,” jelasnya.
Di sisi lain, pemasaran masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM Banjarmasin. Kadin selama ini membantu membuka akses pasar melalui berbagai event.
Strategi tersebut akan dilengkapi dengan promosi berbasis digital seiring pertumbuhan pemasaran melalui platform digital.
“Pemasaran masih agak terkendala. Kami dari Kadin saat ini memfasilitasi melalui event dan segala macam. Karena pertumbuhan digital juga sangat pesat, kami juga mendukung dari segi promosi secara digitalisasi,” pungkas Akbar.(naz/fsl)

