BANUATODAY.COM,BANJARMASIN – Antusiasme luar biasa mewarnai peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Yayasan Qatrun Nada di Majelis Taklim kawasan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur, pada Sabtu (22/8).
Ratusan jemaah yang terdiri dari murid, orang tua, hingga masyarakat sekitar tampak tumpah ruah memadati lokasi acara.
Yayasan Qatrun Nada, yang menaungi jenjang pendidikan dari PAUD, TK, TPA/TKA Al-Qur'an, hingga Madrasah Aliyah ini, secara khusus menghadirkan penceramah kondang, Al Ustadz H. Ilham Humaidi. Kehadiran Pengasuh Majelis Taklim As Shofa tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang rindu akan siraman rohani.
Dalam tausiyahnya, ulama yang akrab disapa Guru Ilham ini mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum bulan Rabiul Awal sebagai sarana menghubungkan diri dan keluarga dengan Nabi Muhammad SAW.
"Bagaimana caranya? Yakni dengan memperbanyak menyebut nama beliau (berselawat), meneladani sejarahnya, menghidupkan sunahnya, membela risalahnya, serta mengikuti Al-Qur'an yang merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad," tutur Guru Ilham.
Lebih lanjut, Guru Ilham mengingatkan bahwa Rasulullah adalah panutan sempurna yang dipilih langsung oleh Allah SWT. "Fisiknya indah, tutur bicaranya, duduknya, jalannya, tatapannya, hingga senyumnya tidak ada yang mampu menandingi, apalagi akhlak dan budi pekerti beliau," tambahnya.
Guru Ilham juga mengapresiasi keberadaan Yayasan Qatrun Nada. Menurutnya, lembaga pendidikan seperti ini merupakan bentuk nyata dalam membela agama dan menolong syariat Nabi, karena di dalamnya anak-anak dididik ilmu agama dan akhlakul karimah.
"Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar atau tanah, melainkan warisan ilmu pengetahuan agama yang menyelamatkan kita. Dan di lembaga inilah warisan tersebut dibagikan. Sempatkanlah menuntut ilmu agama, cari seribu alasan untuk hadir ke majelis, karena ini sangat urgen di akhir zaman," pesan Guru Ilham.
Sementara itu, Ketua Yayasan Qatrun Nada, Dr. H. Sakerani, M.Pd., menjelaskan bahwa peringatan kali ini sengaja mengusung konsep "Maulid Akbar".
"Kenapa disebut Maulid Akbar? Karena kita melibatkan seluruh unsur yang ada di lembaga dan yayasan, sekaligus merangkul masyarakat sekitar. Harapan kami, terbangun kebersamaan antara para guru, tenaga kependidikan, dan warga," ujar Sakerani.
Sakerani menaruh harapan besar, khususnya bagi para peserta didik, agar momen ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.
"Untuk anak-anak kami, kami berharap dengan peringatan ini tertanam di jiwa mereka kecintaan kepada Rasulullah SAW. Pada akhirnya, mereka tidak hanya sekadar memperingati, tetapi mampu mempraktikkan contoh dari Rasulullah dalam kehidupan keseharian mereka," pungkasnya.(naz/fsl)

