BANUATODAY.COM,BANJARMASIN -Peran jurnalis perempuan dalam kontrol sosial dinilai tak sebatas pada tugas-tugas peliputan yang rutin dilakukan. Lebih dari itu, jurnalis, khususnya perempuan, sudah seharusnya berperan aktif dalam upaya antisipasi atau preventif.
Seperti kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada kabut asap yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam momen Silaturahmi dan Diskusi Reflektif bertema “Perempuan dan Media: Merawat Kedaulatan Informasi, Menebar Keadilan” yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalsel di Wakaka Stage, Sabtu (29/8/2026), peran jurnalis perempuan dibahas secara mendalam.
Salah satunya yang disampaikan Dr. Hj. Ratna Sari Dewi, praktisi media sekaligus Ketua Tim Berita TVRI Kalsel, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Dewi menegaskan bahwa karhutla merupakan fenomena yang memiliki pola berulang dan dapat diprediksi, terutama saat musim kemarau dan dipengaruhi oleh fenomena iklim seperti El Niño.
“Ini kejadian yang berulang dan bisa diprediksi. Kita sudah tahu kapan musim kemarau,” ujarnya.
Ia menilai bahwa media tidak cukup hanya hadir dan memberitakan dampak dari kejadian tersebut. Melainkan dapat melakukan perannya dalam kontrol sosial untuk menyampaikan peringatan dini kepada para pemangku kepentingan. Tujuannya tentu agar pihak berwenang dapat mengambil langkah-langkah antisipasi sebelum kejadian tersebut merugikan masyarakat.
“Kalau hanya memberitakan kejadiannya, apa bedanya kita dengan media sosial?” tuturnya lagi.
Karena itu, media harus memberikan nilai tambah melalui analisis, verifikasi, serta konteks yang lebih dalam terkait potensi bencana yang akan terjadi.
Sementara itu, Ketua FJPI Kalsel Hj. Sunarti menegaskan pentingnya integritas dan akurasi di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, media harus tetap menjadi sumber informasi yang kredibel dan tidak sekadar mengejar kecepatan.(naz/fsl)

