BENAHI :RPU di RPH Basirih di Banjarmasin Selatan diminta segera dibenahi agar dapat beroperasi optimal/foto:anaBANUATODAY.COM,BANJARMASIN- Rumah Potong Unggas (RPU) modern di kawasan RPH Basirih, Banjarmasin Selatan, belum beroperasi optimal meski telah dibangun sejak 2023. Pemko Banjarmasin kini memetakan sejumlah persoalan fasilitas sebelum menghidupkan kembali kawasan tersebut.
Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR sempat turun langsung meninjau kondisi RPU. Ia meminta fasilitas yang ada dirapikan dan diperbaiki, mulai sarana pemotongan, air bersih, drainase, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Yamin juga meminta kawasan RPH Basirih ditata agar tidak terkesan kumuh. Area yang masih kosong diarahkan untuk ditata menjadi ruang terbuka, sementara akses jalan di dalam kawasan diperbaiki.
Menurutnya, sistem drainase juga harus terkoneksi dengan IPAL. Air limbah dari aktivitas pemotongan tidak boleh dibiarkan mengalir atau tercecer di kawasan RPH.
“Ini harus hidup lagi di sini. Kita punya lahan luas seperti ini, harus dimanfaatkan,” ujar Yamin saat meninjau lokasi, belum lama ini.
Ia bahkan menargetkan pembenahan kawasan tersebut dapat terlihat hasilnya pada 2027. Selain fasilitas utama, rumah dinas petugas yang kondisinya kurang baik juga diminta dirapikan.
“Jadi 2027, saya ingin ini benar-benar terolah dengan baik,” tegasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Banjarmasin Yuliansyah Effendi mengatakan, peninjauan tersebut menjadi dasar untuk mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki, dibangun, maupun dibenahi agar dapat digunakan pelaku usaha penyembelihan unggas.
Menurut dia, persoalan RPU tidak hanya berada pada satu bagian. Kapasitas sumber daya manusia dan fasilitas pendukung juga perlu diperbaiki secara bersamaan.
“Kalau melihat kondisi kemarin memang perlu ada perbaikan. Ini menjadi perhatian kepala daerah kita, beliau sangat konsen,” katanya, Jumat (28/8/2026).
Yuliansyah menyebut fasilitas pemotongan sebenarnya telah menggunakan mesin modern. Namun, fasilitas pendukung belum sepenuhnya menunjang operasional.Persoalan tersebut mencakup penampungan, ketersediaan air, IPAL, bangunan, hingga rumah petugas. Seluruh bagian dinilai saling berkaitan dalam mendukung kegiatan pemotongan unggas.
“Semua harus, karena rangkaian kegiatan itu kan saling menopang,” jelasnya.
Saat peninjauan, beberapa kerusakan bangunan juga ditemukan. Di antaranya atap yang bocor dan lantai yang mengalami kerusakan.
Yuliansyah mengatakan pembenahan perlu dilakukan secara menyeluruh agar fasilitas tersebut dapat memberikan kenyamanan sekaligus mendukung legalitas usaha pemotongan unggas.
Ke depan, Pemko ingin aktivitas pemotongan unggas di Banjarmasin dapat lebih banyak dipusatkan di RPH Basirih. Dengan begitu, kegiatan penyembelihan diharapkan lebih tertata, higienis, profesional, dan mudah diawasi.
Pengelolaan limbah juga menjadi bagian penting dari rencana tersebut. Limbah seperti bulu ayam dan sisa pemotongan didorong tidak hanya dibuang, tetapi dapat diolah kembali sehingga memiliki nilai manfaat.
Untuk mendukung pengembangan kawasan, Pemko sebelumnya juga sempat menawarkan peluang investasi. Yuliansyah menyebut pernah ada pihak yang menunjukkan ketertarikan.
Namun, kerja sama investasi masih membutuhkan pembahasan lintas-OPD. Setidaknya Bappeda, pengelola keuangan, perizinan, bagian hukum, dan bagian pemerintahan perlu dilibatkan agar skema kerja sama tidak merugikan pemerintah maupun investor.(yln/rdh
