Trending

Kabut Asap Memburuk , 273 Sekolah di Banjar Ajukan Penyesuaian Pembelajaran

 

MEMBURUK: Kabut asap menyelimuti kawasan Martapura, Kabupaten Banjar, hingga mengurangi jarak pandang pengguna jalan/foto:bpbd

BANUATODAY.COM,MARTAPURA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas belajar mengajar di Kabupaten Banjar. Hingga Senin (31/8), sebanyak 273 satuan pendidikan mengajukan penyesuaian pembelajaran kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Banjar.

Dari jumlah tersebut, sekitar 150 sekolah sudah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sementara satuan pendidikan lainnya memilih menggeser jam masuk atau tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM), dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

Kepala Disdik Kabupaten Banjar, Liana Penny mengatakan, sekolah di daerah terdampak kabut asap diberikan kewenangan untuk menentukan pola pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi setempat.

“Untuk daerah-daerah yang terdampak kabut asap, satuan pendidikan diperkenankan melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Cukup dengan persetujuan komite dan melaporkannya ke Dinas Pendidikan,” ungkap Liana seusai rapat gabungan bersama DPRD Kabupaten Banjar, terkait pengawasan dan evaluasi penanganan karhutla, Senin (31/08).

Selain mengambil opsi PJJ,  lanjut Liana, sekolah juga diperbolehkan memundurkan jam masuk maupun tetap menggelar PTM. Kebijakan tersebut tidak diberlakukan seragam karena tingkat paparan asap berbeda antarwilayah.

Di wilayah dengan paparan asap lebih ringan, sejumlah sekolah memilih menggeser jam masuk. Salah satunya di Martapura.

Liana mengatakan, dalam beberapa hari terakhir kualitas udara di Martapura masih berada pada kategori sedang. Namun, kabut asap yang cukup tebal pada pagi hari membuat sejumlah sekolah memilih menggeser waktu masuk menjadi pukul 09.00 Wita.

“Yang mengajukan pengunduran jam itu hanya di daerah-daerah yang sedikit terdampak. Contohnya Martapura, beberapa hari kemarin kabut asapnya agak tebal. Karena pagi hari masih lumayan, kebanyakan mengundurkan jam masuk menjadi pukul 09.00,” katanya.

Sementara wilayah dengan dampak asap lebih berat, seperti Gambut, Kertak Hanyar, Sungai Tabuk, dan Cintapuri, lebih banyak memilih menerapkan PJJ.Meski demikian, ia tak m nampik bahwa masih terdapat sekolah yang tetap melaksanakan PTM. 

Liana menegaskan, keputusan tersebut menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan dengan tetap memperhatikan kondisi udara serta keselamatan warga sekolah.

“Dalam kondisi darurat seperti ini, saya mengimbau sekolah-sekolah lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan peserta didik dan juga PTK-nya,” tegasnya.

Diketahui sebelumnya, kondisi kualitas udara Banjar memang mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. 

Data indeks standar pencemar udara (ISPU) dari alat pemantau kualitas udara otomatis (AQMS) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan mencatat angka 213 atau kategori sangat tidak sehat pada 29 Agustus pukul 08.00 Wita.

Sehari kemudian, angka tersebut turun menjadi 79 atau kategori sedang pada waktu yang sama.Namun, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DPRKPLH Kabupaten Banjar Muhammad Saupi mengatakan, sejumlah wilayah masih mengalami kondisi udara tidak sehat pada jam tertentu, terutama pagi hari.

Gambut, Martapura Barat, dan sebagian wilayah Martapura menjadi beberapa kawasan yang disebut terdampak. Kepekatan asap terutama terasa sekitar pukul 06.00 hingga 09.30 Wita.

Kondisi tersebut membuat sekolah perlu menyesuaikan kegiatan pembelajaran berdasarkan perkembangan udara di wilayah masing-masing.(Yan/rdh)




Lebih baru Lebih lama