Trending

Karhutla Ancam Sentra Cabai Hiyung, Petani Siaga Siang Malam

 Penulis: Rasidi Fadli 

Rubrik: Hukum dan Peristiwa 


CABAI: Wilayah Cabai Hiyung yang berada d Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah memiliki potensi terbakar di musim Karhutla ini/foto:dok

BANUATODAY.COM,RANTAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut membayangi sentra pertanian cabai Hiyung di Kecamatan Tapin Tengah. Wilayah yang didominasi lahan rawa tersebut dinilai cukup rawan terbakar saat musim kemarau. Petani pun harus meningkatkan kewaspadaan agar api tidak sampai merembet ke lahan pertanian.

Junaidi, petani cabai Hiyung di Desa Hiyung, mengatakan hampir seluruh kawasan lahan pertanian di wilayahnya memiliki potensi terdampak karhutla.

“Ancaman karhutla terhadap lahan cabai Hiyung sangat besar. Hampir keseluruhan wilayah rawan karhutla,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Junaidi, asap akibat kebakaran lahan sudah beberapa kali mendekati kawasan perkebunan cabai Hiyung.

“Sudah sekitar empat kali asap kebakaran lahan mendekati area perkebunan cabai Hiyung,” katanya.

Kondisi kemarau juga membuat petani kesulitan mendapatkan air. Sebagian lahan bahkan mengalami kesulitan untuk memperoleh sumber air yang cukup untuk kebutuhan tanaman.

“Untuk kondisi lahan dan sumber air di tengah kemarau, sebagian sangat memprihatinkan. Ada yang sangat sulit mencari air,” ungkapnya.

Tak hanya mengancam lahan secara langsung, kabut asap juga disebut berpengaruh terhadap tanaman cabai. Paparan asap dinilai dapat mengganggu pertumbuhan sekaligus kualitas cabai yang dihasilkan.

Karena itu, petani melakukan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya membuat sekat bakar sebagai pembatas agar api tidak mudah masuk ke lahan perkebunan.a

Petani juga menyiapkan sejumlah titik air yang sewaktu-waktu dapat digunakan apabila terjadi kebakaran.

“Petani sudah membuat sekat bakar sebagai pembatas lahan dan mencari titik-titik air,” jelas Junaidi.

Pengawasan terhadap potensi kebakaran juga dilakukan secara mandiri. Para petani bergantian memantau keberadaan titik api, bahkan hingga malam hari.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan jika muncul api, penanganan bisa dilakukan sedini mungkin sebelum merembet ke lahan cabai.

Sejauh ini, Junaidi menyebut kebakaran sudah berdampak terhadap lahan cabai Hiyung. Di kawasan Desa Hiyung, lahan yang terbakar diperkirakan sekitar setengah hektare.

Sementara di wilayah Sungai Rutas Hulu, lahan yang terbakar mencapai sekitar 1,5 hektare.

Kondisi tersebut menjadi perhatian petani karena terjadi ketika musim panen cabai sedang berlangsung. Junaidi menyebut sekitar 75 persen tanaman cabai saat ini sudah dipanen.

“Yang sudah panen hampir 75 persen. Puncak panen pada Juli, Agustus dan September,” katanya.

Menurut Junaidi, ancaman kemarau dan karhutla turut memengaruhi pendapatan petani tahun ini. Kondisi cuaca membuat hasil produksi menurun dan biaya yang harus dikeluarkan petani juga semakin berat.

Ia berharap kondisi karhutla dapat segera dikendalikan sehingga tidak semakin meluas ke kawasan pertanian.

Bagi petani cabai Hiyung, menjaga lahan dari ancaman api bukan hanya soal mempertahankan tanaman, tetapi juga menjaga sumber penghasilan masyarakat yang bergantung pada komoditas khas Tapin tersebut.(frz/fsl)

Lebih baru Lebih lama