Trending

Kemarau Lebih Kering, Ancaman Asap Karhutla di Kabupaten Banjar Meningkat

 

ASAP :Ancaman Kabut  Asap Karhutla di Kabupaten Banjar Meningkat/foto:yuanda

BANUATODAY.COM,MARTAPURA – Ancaman asap akibat kebakaran lahan di Kabupaten Banjar tahun ini dinilai lebih serius dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang lebih kering dan minimnya hujan.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DPRKPLH Kabupaten Banjar, Muhammad Saupi, mengatakan kondisi tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan tahun kemarin, tahun ini memang lebih parah. Tahun kemarin masih ada hujan, sedangkan tahun ini lebih full kering,” ujarnya.

Menurutnya, meski pihaknya belum melakukan pengukuran secara menyeluruh menggunakan parameter kualitas udara di seluruh wilayah, dampak asap sudah terlihat secara kasat mata.

“Secara kasat mata, dari kualitas udara itu mungkin sudah dengan kategori tidak sehat. Tetapi memang kita belum melakukan pengambilan sampling di semua titik,” katanya.

Saupi menjelaskan, kondisi kualitas udara di Kabupaten Banjar juga sangat dipengaruhi arah angin. Karena itu, sumber pencemaran tidak selalu berada di wilayah yang terdampak.

“Udara sifatnya lintas wilayah. Kita tidak bisa membatasi angin. Ketika angin membawa asap dari daerah lain masuk ke Kabupaten Banjar, akhirnya wilayah kita yang terdampak,” jelasnya.

Sejumlah kawasan seperti Gambut, Kertak Hanyar, Martapura Barat hingga Sungai Tabuk menjadi wilayah yang perlu diwaspadai.

Di sisi lain, alat pemantau kualitas udara yang berada di lingkungan kantor DPRKPLH Kabupaten Banjar menunjukkan kondisi kategori sedang.

Saupi mengatakan kualitas udara juga dapat berubah berdasarkan waktu.

“Kalau di sini mungkin tidak terlalu banyak polusi. Biasanya siang sudah mulai turun karena matahari sudah muncul. Tetapi pagi dan sore itu yang lumayan pekat lagi,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap. Penggunaan masker yang sesuai standar juga dianjurkan bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar.

Sementara itu, pencegahan kebakaran lahan tetap menjadi langkah utama untuk menjaga kualitas udara.

“Kalau dari kita, pencegahannya jangan ada pembakaran lahan. Kalau sudah terjadi, tindak lanjutnya otomatis menanggulangi kebakaran itu,” pungkas Saupi.

DPRKPLH Kabupaten Banjar juga masih mendorong peningkatan sarana pemantauan kualitas udara agar kondisi di berbagai wilayah dapat diketahui secara lebih cepat dan akurat.(yan/fsl)

Lebih baru Lebih lama