BANUATODAY.COM,KOTABARU – Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turun langsung menyerahkan bantuan teknologi produksi kepada UMKM Jamu Holic Black Garlic di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Langkah nyata ini merupakan bagian dari program bertajuk "Pengembangan Produk Black Garlic sebagai Antioksidan melalui Diversifikasi, Peningkatan Kapasitas Produksi, dan Digital Marketing".
Program pemberdayaan ini didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat untuk tahun pelaksanaan 2026, dengan total pendanaan mencapai Rp45.250.000.
Tim pengusul program ini diketuai oleh apt. Muhammad Ikhwan Rizki, M.Farm., dosen Program Studi Farmasi ULM. Ia didampingi oleh dua anggota ahli, yakni Dr.rer.nat. apt. Liling Triyasmono, M.Sc dari bidang farmasi dan Triando Hamonangan Saragih, M.Kom dari bidang ilmu komputer. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa Farmasi ULM yang terjun langsung ke lapangan.
Sebagai informasi, Jamu Holic Black Garlic adalah usaha rumah tangga yang telah eksis sejak tahun 2020 dengan produk andalan bawang hitam fermentasi. Sebelum adanya intervensi dari ULM, proses produksi mitra masih sangat terbatas.
Mereka hanya mengandalkan lima buah magic jar berkapasitas 2 hingga 5 kilogram. Proses fermentasinya pun memakan waktu hingga lebih dari 20 hari, sehingga produksi maksimal hanya menyentuh angka 15 kilogram per proses. Kondisi ini membuat omzet bulanan tertahan di angka Rp5 juta hingga Rp10 juta.
Dari sisi varian produk, Jamu Holic baru memproduksi dua jenis, yakni black garlic original dan black garlic madu. Pemasarannya pun masih mengandalkan cara konvensional berupa sistem konsinyasi dan door to door di pasar lokal Kotabaru.
Melihat persoalan produksi, minimnya diversifikasi produk, dan sempitnya jangkauan pasar, tim dosen ULM menghadirkan tiga solusi konkret.
Pertama, pengadaan mesin fermentasi berkapasitas 30 kilogram dengan pengatur suhu otomatis yang mampu memangkas waktu produksi dari 20 hari menjadi hanya 5–8 hari. Kedua, pelatihan diversifikasi produk menjadi minuman herbal dan permen berbahan dasar black garlic. Ketiga, pendampingan pemasaran digital melalui pembuatan website usaha, aktivasi media sosial, dan pendaftaran ke kanal e-commerce.
Rangkaian kegiatan pengabdian dan pendampingan ini dieksekusi secara intensif selama tiga hari, yakni pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di lokasi produksi Jamu Holic Kotabaru. Selama periode tersebut, tim dosen dan mahasiswa ULM terjun langsung merealisasikan ketiga program utama, mulai dari perakitan dan serah terima mesin, praktik pembuatan produk turunan, hingga bimbingan teknis digital marketing.
Ketua Tim Pengusul, Muhammad Ikhwan Rizki menjelaskan, introduksi teknologi ini diharapkan mampu merevolusi proses produksi mitra yang selama ini bertumpu pada cara konvensional.
"Dengan mesin fermentasi baru ini, kami berharap Jamu Holic bisa meningkatkan kapasitas produksi hingga 50 persen sekaligus menjaga konsistensi mutu black garlic yang dihasilkan," ujar Ikhwan.
Bantuan ini disambut antusias oleh Surya Wahyudi, pemilik UMKM Jamu Holic Black Garlic. Ia mengaku program pendampingan dari akademisi ULM ini adalah solusi yang sudah lama mereka nantikan.
"Bantuan alat dan pelatihan ini sangat membantu kami yang selama ini terkendala di kapasitas produksi dan belum mengenal pemasaran digital. Semoga lewat pendampingan ini, usaha kami bisa berkembang lebih luas lagi," ungkap Surya.(naz/fsl)
Selain membidik lonjakan kapasitas produksi dan inovasi dua produk baru (minuman dan permen), program ini juga menargetkan peningkatan angka penjualan hingga 50 persen melalui kanal digital dalam tiga bulan pertama.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim ULM juga telah merancang skema pemantauan berkala, riset pengembangan varian produk lanjutan, serta penjajakan kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Kotabaru dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Program pengabdian ini menjadi wujud nyata penguatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

