Trending

Mahasiswa Farmasi ULM Teliti Potensi Daun Bangkal Khas Kalsel

TELITI : Mahasiswa Farmasi ULM Teliti Potensi Daun Bangkal Khas Kalsel/foto;ana

BANUATODAY.COM,BANJARBARU — Ancaman krisis resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance) atau kekebalan bakteri terhadap antibiotik secara global terus mendorong para akademisi muda untuk menciptakan terobosan baru. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat (FMIPA ULM) meneliti potensi daun bangkal (Nauclea subdita).

Tanaman khas lahan basah Kalimantan Selatan ini dieksplorasi potensinya sebagai agen antiquorum sensing dan antibiofilm untuk melumpuhkan bakteri patogen mematikan, Pseudomonas aeruginosa.

Inovasi riset yang berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) Kemendikbudristek ini digawangi oleh Shafa Ulya Rahmah selaku ketua tim. Ia bekerja sama dengan empat anggota lainnya, yakni Shafa Alifia Nurjihan, Namira Shafa Azzahra, Noor Laili Maulida, dan Luthfia Azzahra, di bawah bimbingan dosen apt. Difa Intannia, M.Farm-Klin.

Bakteri Pseudomonas aeruginosa dikenal luas di dunia medis sebagai salah satu penyebab utama infeksi nosokomial di rumah sakit dan infeksi luka kronis yang sulit disembuhkan. Bakteri ini mampu membentuk matriks biofilm tebal layaknya benteng pertahanan alami, membuatnya ratusan kali lebih kebal terhadap antibiotik. Pembentukan biofilm ini dikoordinasikan melalui sistem komunikasi kimiawi antarsel yang disebut quorum sensing.

Ketua Tim PKM-RE ULM, Shafa Ulya Rahmah, menjelaskan bahwa riset mereka berfokus pada strategi melumpuhkan virulensi patogen (pathoblocker) alih-alih membunuhnya secara langsung. Pendekatan ini dinilai jauh lebih aman karena meminimalkan mutasi bakteri menjadi resisten.

"Penggunaan antibiotik konvensional secara agresif sering kali justru mempercepat laju resistensi. Melalui riset ini, ekstrak daun bangkal diuji untuk memutus jalur komunikasi kimiawi atau antiquorum sensing pada Pseudomonas aeruginosa. Ketika komunikasinya terputus, bakteri tidak dapat lagi berkoordinasi membangun perisai biofilm, sehingga eliminasinya menjadi jauh lebih efektif," ujar Shafa di Banjarbaru.

Penelitian ini dilakukan melalui serangkaian uji eksperimental, mulai dari determinasi, ekstraksi daun bangkal, analisis fitokimia, hingga pengujian aktivitas antiquorum sensing dan antibiofilm. Aktivitas penghambatan bakteri ini diyakini berasal dari senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan tanin pada daun bangkal.

Dosen Pembimbing Tim, apt. Difa Intannia, M.Farm-Klin., mengapresiasi langkah strategis mahasiswanya yang mengangkat keanekaragaman hayati lokal ke kancah riset farmakologi mutakhir.

"Eksplorasi target antiquorum sensing dan antibiofilm merupakan garda depan penanganan infeksi resisten di tingkat global. Riset ini membuktikan bahwa kekayaan flora lahan basah Kalsel menyimpan potensi molekuler yang prospektif untuk dikembangkan menjadi adjuvan terapi antibiotik maupun sediaan fitofarmaka terstandar di masa mendatang," tutur Difa.

Selain riset laboratorium, tim juga melakukan diseminasi sains ke ruang publik melalui kampanye edukasi bertajuk "Quora Bora" dengan slogan From Nature to Innovation. Sosialisasi ini dilakukan secara kreatif melalui media sosial @quorabora.id.

Melalui inovasi ini, tim berharap dapat mendukung Kemandirian Bahan Baku Obat Nasional, mencapai target SDGs di bidang kesehatan, sekaligus membawa riset kebanggaan Kalsel ini melaju ke ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).(yln/rdh)

Lebih baru Lebih lama