BANUATODAY.COM KANDANGAN - Cuaca panas yang tidak biasa, membuat struktur tanah menjadi sangat kering menjadi tantangan tersendiri bagi para petani Semangka di HSS. Seperti yang dirasakan oleh Syarifuddin, petani Semangka dari RT.02 Desa Muning Baru, Kecamatan Daha Selatan.
Ia mengatakan, keringnya tanah membuat petani harus bekerja lebih ekstra untuk menjaga struktur tanah agar tetap stabil dengan memberikan pasokan air.
"Sumber air masih ada, cuman untuk tenaganya saja yang kurang untuk mengucurkan air. Sebagian ada yang pakai mesin, ada yang manual. Kalau saya masih manual, jadi lebih repot harus bolak balik mengangkut air," jelas Syarifuddin
Menurut Syarifuddin, hal yang selama ini menjadi keluhan para petani adalah bunga atau bakal buah gagal menempel, layu, lalu rontok karena suhu panas yang terlalu tinggi menyebabkan stres fisiologis, kegagalan penyerbukan, serta kekurangan pasokan air dan nutrisi yang stabil.
"Keluh kesah para petani itu buahnya gagal nempel karena kepanasan. Tidak semua, masih ada yang berhasil. Untuk mengatasinya dengan dikawinkan lagi," ungkapnya.
Sementara untuk hasil panen buah Semangka saat ini belum semua petani memasuki masa panen. Untuk buah Semangka yang memasuki umur 1 bulan sepuluh hari, tinggal menunggu proses pembesaran buah untuk mendapatkan matang maksimal.
"Belum semua memasuki masa panen, jadi belum bisa memastikan perbandingan jumlah panen antar tahun," tutur Syarifuddin.
Selain dampak kekeringan, bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang saat ini terus terjadi, turut menjadi ancaman bagi para petani Semangka karena resiko rembetan karhutla yang sewaktu-waktu bisa memasuki lahan kebun Semangka.
Syarifuddin mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya pernah terjadi Karhutla di wilayahnya berdampak pada turut terbakarnya sebagian kecil lahan kebun Semangka petani.
"Ada beberapa hari lalu katanya di RT sebelah yang terdampak sedikit," pungkas Syarifuddin.(frz/fsl)

