BANUATODAY.COM,BAJAR -Di tengah belum bergulirnya AUTP, dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian terus meluas.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah, mengatakan hingga 30 Juli 2026 luas tanam padi di Kabupaten Banjar telah mencapai 1.714 hektare.
Dari jumlah tersebut, 334 hektare dilaporkan terdampak kekeringan.Lahan terdampak tersebar di enam kecamatan, yakni Beruntung Baru seluas 160 hektare, Sungai Tabuk 94 hektare, Martapura Barat 30 hektare, Karang Intan 28 hektare, Martapura Kota 21,08 hektare, dan Astambul 1 hektare.
Meski demikian, Nurul mengklaim bahwa hingga kini belum ada laporan lahan yang mengalami puso.
Menurut Nurul, sebagian besar lahan yang kini terdampak merupakan sawah yang ditanami pada April hingga Juni dengan varietas padi lokal berumur panen lebih panjang.
Saat kemarau datang lebih cepat, tanaman masih berada pada fase pengisian bulir sehingga tetap membutuhkan pasokan air.
Ia menjelaskan, banyak petani memperkirakan pola musim tahun ini akan menyerupai 2025 yang masih mengalami kemarau basah.
Namun, curah hujan justru menurun sejak Mei sehingga cadangan air di sejumlah wilayah tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman.
"Yang rentan terdampak saat ini adalah petani yang menanam padi lokal. Umur tanamnya lebih panjang sehingga ketika kemarau datang lebih cepat, tanaman belum sempat dipanen," ujarnya.
Nurul menegaskan, ancaman terbesar saat ini bukan semata gagal panen, melainkan penurunan produktivitas akibat proses pengisian bulir yang terganggu karena kekurangan air.
"Yang kami khawatirkan bukan langsung gagal panen, tetapi produksi menurun karena pengisian bulir tidak maksimal akibat kekurangan air," pungkasnya.(yan/fsl)

