Trending

Tanah Keirng dan Serangan Tungro,Petani di Tanjung Pagar Terancam Gagal Panen

KERING:Kondisi lahan pertanian di Tanjung Pagar, Banjarmasin Selatan, yang mengalami kekeringan hingga tanah terbelah akibat minimnya hujan/foto:dok

BANUATODAY.COM,BANJARMASIN - Kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap pertanian Kota Banjarmasin. Sejumlah lahan sawah, terutama di Banjarmasin Selatan, mengalami kekeringan hingga tanah terbelah, sementara serangan tungro juga mengancam hasil panen.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Banjarmasin Jenderawati mengatakan, kondisi tahun ini berbeda dibanding musim tanam sebelumnya yang masih mendapat cukup hujan.

“Kalau tahun ini memang diperkirakan lumayan panjang,” kata, Jumat (28/8/2026).

Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat di kawasan Banjarmasin Selatan, terutama Tanjung Pagar. Lahan yang pada tahun sebelumnya masih bisa ditanami kini mengalami kekeringan ekstrem hingga tanah retak dan terbelah.

Menurut Jenderawati, Banjarmasin Selatan menjadi salah satu kawasan penting karena memiliki lahan pertanian paling luas dan berada dekat dengan sungai besar. Namun, debit air kini mulai menyusut akibat minimnya hujan.

“Yang biasanya tahun kemarin masih bisa bertanam, sekarangsangat kering kerontang sampai terbelah-belah tanahnya,” ujarnya.

Persoalan air juga diperparah perkembangan kawasan permukiman. Jenderawati menyebut pembangunan perumahan yang tidak memperhatikan saluran drainase dapat menghambat aliran air menuju lahan pertanian.

Di sisi lain, intrusi air asin menjadi ancaman tambahan. Sejumlah kawasan pertanian di Banjarmasin Selatan masih bisa ditanami, tetapi petani harus menghadapi kondisi air yang mulai terpengaruh salinitas.

Tekanan tersebut berpotensi memengaruhi produksi padi Banjarmasin. Jenderawati mengatakan produksi padi kota dalam kondisi normal berkisar 10.000 hingga 11.000 ton per tahun.

Pada 2025, produksi padi Banjarmasin berada di kisaran 10.000 ton. Sementara produktivitas lahan rata-rata berada pada kisaran 3 hingga 5 ton per hektare.

“Produksi keseluruhan rata-rata kita paling tinggi 11.000 ton setahun. Kalau tahun kemarin, 2025, sekitar 10.000 ton,” jelasnya.

Selain kekeringan, petani juga menghadapi serangan tungro. Penyakit tanaman tersebut membuat bulir padi tidak terisi penuh meskipun tanaman dari luar masih terlihat hijau.

Jenderawati menjelaskan, tungro dapat menyebar melalui jalur air. Kondisi geografis Banjarmasin yang menjadi daerah tumpuan aliran air dari wilayah sekitar membuat penyebaran penyakit tanaman tersebut perlu diwaspadai.

Data sementara DKP3 mencatat lahan terdampak kekeringan dan hama mencapai sekitar 9,5 hektare. Di Banjarmasin Timur, sekitar 4,95 hektare di antaranya terdampak serangan tungro.

Kerusakan akibat tungro tidak selalu membuat tanaman langsung mati. Namun, bulir yang kosong membuat hasil panen tidak maksimal dan berpotensi mengurangi pendapatan petani.

“Bulirnya sampai sekarang pun hijau. Kelihatannya saja hijau, tapi ada bulirnya yang kosong. Nah, itu yang mengurangi produksi,” katanya.

DKP3 kini melakukan pemantauan bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Petugas turun ke lapangan untuk memastikan jenis serangan sekaligus menentukan penanganan yang diperlukan.

Untuk menghadapi kekeringan, Dinas Pertanian juga mengerahkan pompa air. Selain unit pemompaan, tersedia dua rumah pompa yang dapat dimanfaatkan untuk membantu suplai air ke lahan pertanian terdampak.

“Kondisi tanaman menjadi penentu tingkat kerugian petani. Jika tanaman sudah kering dan rusak total, hasil panen dapat hilang,” tandasnya.

Karena itu, DKP3 memilih tetap mendampingi petani meski kondisi pertanian sedang tertekan. 

Sebab menurutnya, petani di Banjarmasin masih membutuhkan dukungan agar tetap mampu mempertahankan lahan pertaniannya di tengah perubahan kondisi air dan cuaca.(yln/rdh)

Lebih baru Lebih lama