![]() |
| PEMANJAT :Para pemanjat tebing melakukan aksinya di DPWCC 2026/foto;naza |
BANUATODAY.COM,BANJARMASIN – tebing memadati area kampus untuk mengikuti gelaran kejuaraan panjat tebing tahunan, Direktur Poliban Wall Climbing Competition (DPWCC) yang ke-3,Sabtu (12/09)
Kejuaraan ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan untuk memperebutkan piala bergilir Direktur Poliban. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Pembina Komunitas Pencinta Alam (KPAP) Poliban, Ucu Syauki.
"Sebenarnya ini kegiatan rutin sih, memperebutkan piala bergilir direktur. Jadi namanya adalah DPWCC, yaitu Direktur Poliban Wall Climbing Competition, dan ini sudah yang ketiga," ujar Ucu sapaannya di sela acara.
Pada gelaran tahun ini, antusiasme peserta mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kompetisi tingkat regional Kalimantan ini diikuti oleh puluhan pemanjat yang datang dari tiga provinsi berbeda.
"Alhamdulillah tahun ini pesertanya lumayan banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Ini tingkat Regional Kalimantan, ada dari tiga provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah," jelasnya.
Total peserta yang berlaga mencapai 90 orang yang terbagi ke dalam tiga kategori kompetisi:
Kategori Umum: 44 orang
Kategori Pencinta Alam: 29 orang
Kategori Kelompok Umur (KU 11–13 Tahun): 21 orang
Peserta terjauh pada ajang kali ini diketahui datang dari wilayah Kalimantan Timur.
Melihat perkembangan olahraga panjat tebing di Kalimantan Selatan, Ucu menilai grafik pertumbuhannya menunjukkan tren yang sangat positif.
Olahraga ini kini tidak hanya diminati oleh atlet profesional, tetapi juga mulai merambah ke generasi muda.
Oleh karena itu, panitia sengaja membuka kategori kelompok umur untuk memberi ruang bagi bakat-bakat muda.
"Kalau menurut saya sih perkembangannya jauh signifikan. Peminatnya juga sudah tidak lagi di kalangan atlet-atlet tertentu, tapi juga sudah mulai ramai dari kelompok umur. Makanya kami membuka kategori KU untuk memberi apresiasi kepada atlet-atlet muda yang berbakat," ungkap Ucu.
Kendati mengalami kemajuan pesat, Ucu tidak memungkiri masih ada berbagai tantangan dalam pengembangan olahraga panjat tebing di daerah, terutama terkait dukungan dan ketersediaan sarana pendukung.
Menurutnya, pemajuan cabang olahraga ini membutuhkan totalitas serta dukungan nyata yang tak sekadar moril, tetapi juga material dan fasilitas pendukung.
"Kalau dari saya pribadi sih, harusnya dukungan itu tidak hanya berupa support tenaga atau pikiran saja, tapi memang material dan fasilitas. Harapan saya, di Kalimantan Selatan semakin banyak papan-papan panjat yang bisa dimaksimalkan dan digunakan oleh masyarakat umum di luar sana, kalau bisa di spot-spot publik," pungkasnya.(Naz/fsl)

