Trending

BPBD Kalsel Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca hingga 29 September

 

CUACA:  3 ton NaCl yang di semai ke awan dalam operasi modifikasi cuaca beberapa waktu lalu/foto :Lanud Sjamsuddin noor 

‎BANUATODAY.COM, BANJARBARU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan kembali memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terhitung mulai 22 hingga 29 September 2026. 

‎Langkah intensif ini diambil guna mengoptimalkan penyemaian awan seiring terdeteksinya potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalsel oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

‎Kepala Subbid Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Ariansyah, mengungkapkan bahwa armada pesawat penyemai beserta bahan semai telah disiagakan penuh di lapangan. 

‎Tim gabungan langsung bergerak menyisir titik-titik atmosfer begitu radar BMKG mengindikasikan adanya kemunculan awan potensial.

‎"Untuk OMC di Provinsi Kalsel per tanggal 22 sampai 29 September kita mulai kembali. Berdasarkan informasi BMKG, ada potensi awan dan peluang hujan yang bisa dimanfaatkan untuk proses penyemaian," ujar Ariansyah dalam keterangannya, Jumat (25/9).

‎Ariansyah menegaskan, ketersediaan awan potensial menjadi faktor kunci keberhasilan rekayasa cuaca ini. 

‎Oleh karena itu, kesiapan sarana armada yang disiapkan jauh-jauh hari memungkinkan tim OMC langsung melakukan intersepsi di udara tanpa menunda waktu.

‎Langkah ini menjadi bagian penting dari mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya antisipasi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

‎"Kita akan pantau terus perkembangan kondisi atmosfer sampai tanggal 29 September mendatang untuk melihat sejauh mana efektivitas hasil penyemaian ini," tambahnya.

‎Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Ota Welly Jenny Thalo, membenarkan adanya peningkatan peluang pertumbuhan awan hujan di Kalsel pada periode 24–28 September 2026. 

‎Berdasarkan pemantauan meteorologi, persentase pertumbuhan awan berada pada kategori tinggi.

‎"Potensi pertumbuhan awan hujan secara umum berada pada kategori tinggi, berkisar antara 50 hingga 70 persen, terutama di wilayah Kalsel bagian utara, barat, dan sebagian timur," terang Ota.

‎Meski demikian, Ota memaparkan bahwa berdasarkan data Automatic Rain Gauge (ARG), curah hujan alamiah yang turun di sejumlah daerah masih tergolong sangat rendah.

‎Di Kabupaten Tabalong misalnya, curah hujan yang terukur baru mencapai 0,10 milimeter. 

‎Hal ini mengindikasikan bahwa hujan yang terjadi secara alami belum signifikan untuk membasahi lahan.

‎Guna mendongkrak curah hujan tersebut, penyemaian bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) terus difokuskan pada awan-awan konvektif yang memenuhi kriteria.

‎"Ketika radar mendeteksi awan yang berpotensi, tim udara langsung mengejar awan tersebut untuk ditaburi NaCl. Targetnya adalah menstimulasi dan meningkatkan intensitas curah hujan agar lebih optimal membasahi wilayah Kalsel," pungkas Ota.(Yan/fsl)

‎

Lebih baru Lebih lama