Trending

Dengan Hanya Rp15 Ribu Sehari, Selamatkan Anak dari Stunting

 

GENTING :Penyuluh Bencana Ahli Madya Kota Banjarmasin Indra Wijaya menyampaikan materi tentang Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING)./Foto: istimewa

BANUATODAY/COM,BANJARMASIN – Mencegah stunting tak selalu membutuhkan biaya besar. Lewat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), dukungan sekitar Rp15 ribu sehari diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil dan balita yang masuk sasaran.

Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Madya Kota Banjarmasin Indra Wijaya mengatakan, GENTING merupakan gerakan gotong royong yang melibatkan pemerintah, masyarakat hingga dunia usaha. Tujuannya membantu keluarga berisiko stunting, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“GENTING ini gerakan bersama. Jadi bukan hanya pemerintah yang bergerak. Masyarakat, dunia usaha dan pihak lainnya juga bisa ikut menjadi orang tua asuh,” ujarnya.

Menurut Indra, begitu sapaannya,  periode 1.000 HPK menjadi fase penting dalam tumbuh kembang anak. Pendampingan dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun alias baduta.

Dukungan yang diberikan pun tidak sebatas bantuan makanan. Keluarga sasaran juga mendapat pendampingan dan edukasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi, termasuk pola konsumsi serta pengolahan makanan yang tepat.

“Bukan sekadar memberikan bantuan makanan. Ada pendampingan dan edukasi kepada keluarga. Harapannya, keluarga bisa memahami bagaimana memenuhi kebutuhan gizi anak dengan tepat,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Tim Pendamping Keluarga (TPK) menjadi salah satu ujung tombak di lapangan. Para kader melakukan pendampingan sekaligus memantau kondisi keluarga yang menjadi sasaran.

Skema GENTING juga membuka ruang bagi berbagai pihak untuk ikut berkontribusi. Mulai instansi pemerintah, BUMN, perbankan, perusahaan swasta melalui CSR hingga masyarakat secara perorangan.

Dikatakan, besaran dukungan yang digunakan dalam skema tersebut diperkirakan sekitar Rp15 ribu per hari untuk satu penerima manfaat sesuai sasaran program.

“Prinsipnya gotong royong. Dengan adanya orang tua asuh, diharapkan semakin banyak keluarga berisiko stunting yang bisa mendapatkan dukungan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dalam penanganan stunting. Sebab, bantuan yang diberikan sesekali tanpa pendampingan dan pemantauan dinilai tidak cukup untuk memastikan perubahan pada tumbuh kembang anak.

“Yang kita harapkan bukan hanya bantuan sesaat. Ada keberlanjutan dan pendampingan, sehingga intervensi yang diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak,” pungkas Indra.(Yln/fsl)

Lebih baru Lebih lama