Trending

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Banjar Tembus 6.010 Hektare

 

KARHUTLA :Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan Karhutla di Kabupaten Banjar/foto;bpbd

BANUATODAY.COM,MARTAPURA– Ribuan hektare lahan di Kabupaten Banjat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026. Dari total 6.010,75 hektare lahan terdampak, baru 1.400,75 hektare yang tercatat tertangani.

Data tersebut merupakan angka kumulatif periode 1 Januari hingga 22 September 2026 pada Dashboard Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan BPBD Kalimantan Selatan.

Artinya, luasan lahan yang tercatat tertangani hanya sekitar 23,3 persen dari total lahan yang hangus akibat kathutla di Kabupaten Banjar.

Dalam periode yang sama, wilayah ini sidah mencatat 802 kejadian Karhutla yang tersebar di berbagai wilayah Banjar.

Mulai dari kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Martapura Barat, Martapura, Beruntung Baru, Karang Intan hingga sejumlah kecamatan lainnya masuk dalam catatan kejadian Karhutla.

Penanganan Karhutla tidak selalu mudah. Karakteristik lahan, terutama gambut, menjadi salah satu tantangan petugas di lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha mengatakan, Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meski api yang terlihat sudah padam. 

“Kondisi ini membuat proses penanganan membutuhkan pemadaman sekaligus pendinginan dan pemantauan lanjutan,” ungkapnya saat dikonfirmasi. 

Vegetasi semak, galam dan tanaman kering juga membuat api mudah menyebar. Bahkan pada lokasi tertentu, akses menuju titik api serta ketersediaan sumber air menjadi kendala.

Kondisi tersebut terlihat dalam penanganan Karhutla di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura Timur, pada 24 Agustus lalu.

Saat itu, lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 1,5 hektare. Petugas berhasil memadamkan sekitar 0,5 hektare. Namun, proses penanganan terkendala akses menuju lokasi dan keterbatasan sumber air.

Di samping itu, lanjut Wasis, penanganan tidak berhenti setelah api permukaan berhasil dipadamkan.

“Kami terus memantau perkembangan di lapangan sampai kondisi benar-benar aman,” ujar Wasis.

Pemantauan pascapemadaman juga dilakukan pada kebakaran di Kelurahan Tanjung Rema Darat, Kecamatan Martapura, 17 September.

Setelah sekitar 0,5 hektare lahan gambut dipadamkan, petugas tetap melakukan pendinginan dan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Berdasarkan data kejadian Karhutla yang dihimpun hingga 21 September, laporan tersebar di 18 kecamatan. Catatan terbanyak terdapat di Gambut, Cintapuri Darussalam, Sungai Tabuk, Martapura Barat, Martapura, dan Beruntung Baru.

Dalam data tersebut, Kecamatan Gambut menjadi wilayah dengan catatan terbanyak, disusul Cintapuri Darussalam dan Sungai Tabuk.

Gambut tercatat memiliki 194 kejadian dalam data pencatatan, Cintapuri Darussalam 118 kejadian, Sungai Tabuk 99, Martapura Barat 88, dan Martapura 67.

Beruntung Baru berada setelahnya dengan 50 kejadian. Kemudian Karang Intan 48 kejadian, Aranio 39, Pengaron 21, serta Simpang Empat 21 kejadian.

Pola tersebut menunjukkan Karhutla tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah. Sejumlah kecamatan yang berada di kawasan rawan juga masih menghadapi kondisi lahan kering.

Bahkan, sebagian wilayah yang masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem BMKG juga muncul dalam catatan Karhutla. Seperti Sungai Tabuk, Beruntung Baru dan Kertak Hanyar.

Besarnya luasan yang terdampak tersebut terjadi di tengah kondisi kering yang masih melanda sejumlah wilayah Banjar. 

Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan mencatat enam kecamatan masuk kategori HTH Ekstrem Panjang, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Enam kecamatan tersebut adalah Astambul, Beruntung Baru, Danau Salak, Kertak Hanyar, Mataraman, dan Sungai Tabuk.

Periode tanpa hujan yang panjang membuat kondisi lahan semakin kering dan meningkatkan risiko kebakaran. 

Namun, HTH tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab setiap kejadian Karhutla. Penyebab kebakaran di masing-masing lokasi tetap membutuhkan pemeriksaan tersendiri.

Selain ratusan kejadian, tingginya aktivitas Karhutla juga terlihat dari jumlah hotspot.

Dashboard BPBD Kalsel mencatat 4.935 hotspot di Kabupaten Banjar sepanjang periode 1 Januari hingga 22 September.

Sejumlah wilayah masih menunjukkan kemunculan hotspot. Pada pemantauan 22 September, antara lain tercatat titik di Gambut, Paramasan, Sungai Tabuk, dan Karang Intan.

Kapolres Banjar AKBP Boni Ariefianto mengatakan 12 Tim Buru Api Marta Presisi disiagakan untuk mempercepat respons ketika ditemukan titik api.

Setiap tim terdiri atas 10 personel. Mereka bekerja bergantian dengan sistem tugas 12 jam.

“Dalam satu hari ada 12 tim yang standby. Satu tim ada 10 orang, mereka bergantian selama masing-masing 12 jam,” ujar Boni.

Personel tidak hanya diarahkan untuk melakukan pemadaman. Pemantauan wilayah rawan, pencegahan, serta respons cepat terhadap laporan titik api juga menjadi bagian tugas.

Dengan pola tersebut, petugas disiapkan untuk bergerak ketika laporan kebakaran diterima sehingga api dapat ditangani sebelum berkembang lebih luas.

Besarnya perbedaan antara total lahan terdampak dan lahan tertangani juga menunjukkan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan proses berkelanjutan.

Di lapangan, penanganan dilakukan melalui asesmen, pemadaman, pendinginan hingga pemantauan pasca pemadaman.

“Di lapangan kami berkoordinasi dengan petugas gabungan, seperti BPBD, pemadam kebakaran, TNI, relawan, serta masyarakat,” jelas Boni 

Pemantauan pasca pemadaman, lanjut Boni juga jadi langkah terutama pada kejadian Karhutla di kawasan lahan gambut.

Hal itu dikarenakan api yang dapat kembali muncul dari titik yang sebelumnya terlihat sudah aman.

Di sisi lain, pencegahan tetap dilakukan dengan mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

“Terlebih, saat ini sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar masih berada dalam kategori HTH Ekstrem Panjang,” pungkas Boni.(Yan/fsl)

Lebih baru Lebih lama