Trending

Kunjungi Pulau Curiak, UT dan UPK Jajaki Kolaborasi Konservasi Bekantan dan Ekowisata

 

KOLABORASI :UT dan UPK Jajaki Kolaborasi Konservasi Bekantan dan Ekowisata/foto:ana

BANUATODAY.COM,BANJARMASIN – Dalam rangka program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin bersama Universitas PGRI Kalimantan (UPK) melakukan kunjungan ke Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, yang merupakan habitat asli satwa endemik bekantan, pada Kamis (17/9).

Sembari mengitari kawasan perairan pulau, rombongan berkesempatan melihat langsung kehidupan asli bekantan di alam liar. Usai puas mengelilingi pulau tersebut, rombongan kemudian singgah ke Stasiun Riset Bekantan yang dikelola oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., mengaku sangat terkesan dengan kondisi stasiun riset tersebut.

"Saya rasa ini buat saya pertama kali ke sini. Ternyata setelah masuk ke Camp Robert ini cukup bagus dan terpelihara. Tadi saya juga sudah berdiskusi dengan Pak Direktur, mungkin dari UT bisa memberikan sesuatu, baik itu riset maupun ikut membantu konservasi di sini," ungkap Prof. Dewi.

Ia menambahkan bahwa kunjungan ini menjadi pintu pembuka bagi UT untuk mengambil peran lebih besar. "Satu titik pintunya sudah terbuka, sehingga kita bisa ikut ambil bagian berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan," tambahnya.

Menyambut hal tersebut, Direktur UT Banjarmasin, Ir. Mochamad Priono, M.Si., menegaskan komitmen institusinya dalam menjaga kelestarian alam, sejalan dengan pencapaian UT yang kini menempati urutan ke-30 sebagai Green University berdasarkan penilaian UI GreenMetric.

"Ke depan, saya sebagai Direktur di Banjarmasin sangat berkomitmen untuk mensupport Bekantan Research Center. Paling tidak, kita bisa melanjutkan program penyediaan makanan bagi bekantan. Mahasiswa biologi juga bisa memanfaatkan area yang luar biasa ini untuk tempat belajar dan riset," jelas Priono.

Lebih lanjut, ia juga merencanakan kerja sama strategis antara UT, UPK, dan Desa Anjir Muara Sarapat 1. "Kita ingin mengembangkan ekowisata tanpa mengganggu ekosistem atau habitat bekantan itu sendiri, namun tetap bisa menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Itu yang sedang kita diskusikan dengan berbagai stakeholder," paparnya.

Dukungan senada juga disampaikan oleh Rektor UPK, Dr. Alimuddin A Jawad, M.Hum. Ia menilai lokasi Pulau Curiak sangat potensial untuk dijadikan laboratorium alam bagi mahasiswanya.

"Kebetulan kami ada program studi Pendidikan Biologi dan Sains Lingkungan. Mahasiswa bisa meneliti berbagai tumbuhan dan hewan di sini. Mereka bisa berpikir apa yang bisa dilakukan ke depan. Pasti akan kita tindak lanjuti dengan melibatkan mahasiswa dan dosen," ujar Dr. Alimuddin.

Sementara itu, Koordinator Sekolah Konservasi, Dewita, menyambut baik antusiasme dari kalangan akademisi. Ia menjelaskan bahwa Stasiun Riset Pulau Curiak yang berdiri sejak 2018 ini memang rutin berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi.

"Kegiatan volunteering sangat bisa dilakukan. Fasilitas juga tersedia, apalagi untuk upaya pelestarian habitat seperti penanaman pohon. Setiap pengunjung yang datang ke sini pasti kita haruskan untuk menanam pohon," jelas Dewita.

Ia juga membagikan kabar menggembirakan terkait populasi satwa berhidung panjang tersebut di Pulau Curiak. Berkat upaya konservasi, jumlah bekantan yang pada tahun 2014 hanya tersisa 14 ekor, kini di tahun 2026 telah berkembang pesat menjadi 61 ekor.

"Bahkan ada berita yang paling baik banget, sekitar bulan Juni atau Juli kemarin, ada bekantan yang lahir kembar di kawasan ini," tutupnya bangga.(Yln/rdh)

Lebih baru Lebih lama