BANUATODAY.COM, PARINGIN - Ratusan toko terlihat kosong dii Pasar Paringin, toko tersebut ditinggalkan pedagang karena sepinya pembeli. Padahal Pasar Paringin adalah sentra ekonomi yang berada tepat di jantung Kabupaten Balangan dan dulunya menjadi kebanggaan masyarakat.
Kondisi terpuruknya pusat perbelanjaan tradisional ini memicu kekecewaan dari warga. Ketiadaan inovasi penataan dan promosi dari pihak pengelola membuat daya tarik pasar terus merosot hingga tidak mampu bersaing, menyisakan deretan toko yang tutup dan minim aktivitas transaksi harian.
Salah seorang warga asli Paringin,Rahmat mengungkapkan keprihatinannya melihat ikon kota yang kian hari kian terbengkalai. Ia menilai situasi lengang saat ini sangat jauh dari kesan pusat perputaran ekonomi yang seharusnya ramai dan hidup.
"Kami sebagai warga asli Paringin sangat sedih dan kecewa melihat kondisi pasar yang kami banggakan ini sekarang sudah sepi bagaikan kuburan di tengah kota," akunya,
Senada diungkapkan Mulia, ia turut menyoroti lemahnya peran pemerintah daerah dan Unit Pelaksana Teknis Pasar Paringin. Ia menganggap pengelolaan aset daerah ini dalam beberapa tahun terakhir sangat tidak maksimal dan miskin terobosan, sehingga berimbas langsung pada merosotnya pamor Pasar Paringin maupun Pasar Adaro.
Ia berharap rentetan keluhan dan tekanan dari masyarakat ini bisa menjadi cambuk bagi instansi terkait. Pengelola dituntut untuk lebih peka dan kreatif mencari jalan keluar agar pasar tradisional tidak benar-benar mati dan ditinggalkan oleh masyarakat Balangan.
Kritik keras dari publik terkait lumpuhnya geliat ekonomi tersebut nyatanya diakui langsung oleh jajaran pengelola pasar. Mereka tidak menampik fakta bahwa eksodus pedagang yang terpaksa gulung tikar atau pindah lokasi memang terus terjadi secara berkala seiring merosotnya tingkat kunjungan konsumen.
Sekretaris Pengelola Pasar Paringin, Hendri membeberkan bahwa fenomena hengkangnya para pedagang ini sudah berlangsung secara konsisten dalam hitungan bulan hingga bertahun-tahun terakhir. Dari total lebih dari 300 unit toko yang tersedia di bangunan tersebut, saat ini angka keterisiannya tergolong sangat memperihatinkan.
Menurut data yang ia sampaikan, jumlah toko yang masih bertahan beroperasi hanya tersisa kurang lebih 170 unit. Ironisnya lagi, sebagian dari toko yang tercatat terisi itu pun nyatanya tidak digunakan untuk aktivitas berdagang harian, melainkan hanya dialihfungsikan secara pasif sebagai gudang penyimpanan barang oleh penyewanya.
"Kita juga menunggu inovasi-inovasi yang akan dilakukan oleh UPT Pasar Paringin, agar dapat menjadikan Pasar Paringin menjadi sentra ekonomi masyarakat Kabupaten Balangan dan sekitarnya," ujar Hendri.
Mati surinya kawasan Pasar Paringin ini seolah menambah rentetan tantangan berat bagi tata kelola wilayah di Kabupaten Balangan, di mana sebelumnya pemerintah daerah juga harus berjibaku memadamkan kebakaran lahan dan mengatasi krisis air bersih di pelosok desa. Jika instansi terkait terus bersikap pasif dan lambat mengambil langkah penyelamatan, bangunan pasar di jantung kota ini perlahan hanya akan berakhir menjadi deretan monumen kosong yang tak lagi memiliki nilai guna.(Frz/fsl)

