Trending

Ribuan Sawah di Banjar Terancam Gagal Panen

 

TERANCAM : Kondisi sawah yang mulai mengering dan tanah retak akibat minimnya pasokan air saat musim kemarau/foto:yuanda

BANUATODAY.COM,MARTAPURA– Hingga 17 September 2026, 1.824,9 hektare lahan sawah dilaporkan terdampak kekeringan. Dari luasan tersebut, 445,9 hektare diantaranya dilaporkan mengalami puso alias gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Nurul Chatimah mengatakan, angka tersebut merupakan hasil laporan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang dihimpun hingga 17 September.

“Dari laporan petugas POPT, sampai dengan 17 September 2026 lahan sawah yang terdampak kekeringan di wilayah Kabupaten Banjar seluas 1.824,9 hektare,” kata Nurul saat dikonfirmasi, Minggu (20/9/2026).

Dampak kekeringan tersebut tersebar di 12 kecamatan. Sementara lahan yang dilaporkan mengalami puso berada di delapan kecamatan, dengan total 445,9 hektare.

Angka puso tersebut menunjukkan sebagian lahan yang terdampak kekeringan sudah tidak lagi berada pada tahap ancaman penurunan produksi. Namun,  sudah sampai ke level gagal panen atau puso.

Sebaran dampak kekeringan tidak merata. Kertak Hanyar menjadi kecamatan dengan lahan terdampak paling luas, yakni 424 hektare. Berikutnya Beruntung Baru 366 hektare dan Martapura Timur 353 hektare.Namun, luas lahan terdampak tidak otomatis berbanding lurus dengan luas lahan yang mengalami puso.

Beruntung Baru justru menjadi wilayah dengan kondisi terberat. Dari 366 hektare lahan terdampak, 260,5 hektare dilaporkan mengalami puso, dan  terdapat 105,5 hektare tercatat telah pulih.

Sungai Tabuk menyusul dengan 292,5 hektare lahan terdampak. Sebanyak 78,5 hektare di antaranya dilaporkan puso.Di Tatah Makmur, lahan terdampak mencapai 135 hektare dengan satu hektare mengalami puso. Martapura Barat mencatat 88 hektare terdampak dan 15 hektare puso.

Kemudian Astambul memiliki 48 hektare lahan terdampak dengan 30,5 hektare puso. Karang Intan mencatat 28 hektare terdampak dengan 22 hektare puso.Kondisi paling mencolok terlihat di Mataraman. Dari 27,4 hektare lahan terdampak, seluruhnya tercatat mengalami puso.

Sementara Martapura mencatat 23 hektare terdampak, enam hektare puso dan 10 hektare lahan telah pulih. Gambut memiliki 20 hektare lahan terdampak tanpa laporan puso. Pengaron juga mencatat 20 hektare terdampak dengan lima hektare puso.

Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang kekurangan air. 

Kondisi tanaman dan kemampuan lahan mendapatkan kembali pasokan air juga turut menentukan apakah tanaman masih bisa diselamatkan atau berakhir puso.

Di sisi lain, delapan kecamatan belum mencatat lahan terdampak maupun puso dalam laporan kumulatif hingga 17 September. Delapan wilayah itu yakni Aluh Aluh, Aranio, Cintapuri Darussalam, Paramasan, Sambung Makmur, Simpang Empat, Sungai Pinang dan Telaga Bauntung.

Status tersebut bukan berarti wilayah bersangkutan dipastikan bebas dari tekanan kekeringan sepanjang musim kemarau. 

Angka tersebut menunjukkan belum adanya lahan terdampak yang masuk dalam laporan POPT sampai batas waktu pendataan tersebut.(Yan/fsl)




KECAMATAN DENGAN LAPORAN NIHIL 


Total ada delapan kecamatan yang belum tercatat memiliki lahan terdampak, puso, maupun pulih:

Aluh Aluh

Aranio

Cintapuri Darussalam

Paramasan

Sambung Makmur

Simpang Empat

Sungai Pinang

Telaga Bauntung

Lebih baru Lebih lama