![]() |
| MELEMAH: Ilustrasi uang rupiah/Foto Pixabay/EmAji |
BANUATODAY.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/9/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.978 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar, rupiah terkoreksi 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.903 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah pada awal perdagangan Senin juga bergerak di bawah tekanan. Rupiah sempat berada di level Rp17.948 per dolar AS pada pembukaan, melemah 45 poin atau 0,25 persen dari penutupan sebelumnya. Pada saat yang sama, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat Rp17.917 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya Rp17.898.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah antara lain dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Selain itu, perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi harga energi dan ekspektasi inflasi global.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin berada dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi juga melihat perkembangan geopolitik AS-Iran serta arah kebijakan The Fed sebagai faktor yang diperhatikan investor. Menurutnya, perubahan harga minyak dan ekspektasi inflasi akibat perkembangan konflik tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi kebijakan domestik, Bank Indonesia sebelumnya menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Bank sentral menyatakan strategi kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia juga menyebut terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Dalam laporan tersebut, BI mencatat nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 berada di level Rp17.855 per dolar AS atau melemah 0,78 persen dibandingkan posisi akhir Agustus. Bank Indonesia menyatakan rupiah masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kondisi global, tetapi memperkirakan stabilitas nilai tukar tetap dapat dijaga melalui bauran kebijakan yang ditempuh.
Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, terutama arah kebijakan moneter AS, harga komoditas energi, serta perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal dan sentimen investor terhadap aset di negara berkembang. (naz/fsl)

