KARHUTLA:Petugas gabungan menangani Karhutla di Kabupaten Banjar di lahan gambut /foto: dok BPBD BANJARBANUATODAY.COM,BANJARBARU - Meski kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Sejumlah titik api masih aktif dan menghasilkan asap, namun penanganan di lapangan terus dilakukan,namun,Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel Muhammad Syarifuddin menyebut kondisi Karhutla secara umum masih terkendali.
Menurut dia, titik api memang masih ditemukan, tetapi penanganannya masih dapat dilakukan petugas.
“Memang sementara ini kasus cukup terkendali. Ada beberapa titik, tetapi yang jelas masih bisa kita kendalikan,” ungkap Syarifuddin saat ditemui awak media di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Stasiun Klimatologi Kalsel mencatat hingga 20 September 2026, sejumlah wilayah masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) Ekstrem Panjang, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Sebarannya paling banyak berada di bagian selatan Kalsel
Kategori tersebut antara lain ditemukan di sejumlah kecamatan Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, hingga Hulu Sungai Tengah.
BMKG menyebut kondisi HTH panjang hingga ekstrem membuat risiko kekeringan dan Karhutla masih tinggi
Sebelumnya, Staklim Kalsel memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada September.
Pada dasarian II September, Kabupaten Banjar juga masuk wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis kategori Siaga.
Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan, sejumlah titik api masih aktif dan menghasilkan asap. Namun, seluruh titik tersebut masih dalam penanganan petugas.
Menurutnya, kondisi Bandara Syamsudin Noor relatif aman dibandingkan sejumlah bandara lain di Kalimantan.
Sempat terjadi keterlambatan penerbangan pada pagi hari, tetapi tidak berlangsung setiap hari. Secara umum, penerbangan dari dan menuju Kalsel masih berjalan normal.
“Semua titik api masih tertangani dengan baik, walaupun tidak sepenuhnya langsung padam karena kondisi lahan gambut,” jelas Ronny.
Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam pemadaman. Api tidak selalu langsung benar-benar padam setelah kobaran di permukaan berhasil dikendalikan.
Karena itu, penanganan dilakukan melalui pembasahan dan pengairan. Pemantauan juga terus dilakukan untuk memastikan titik api tidak kembali muncul.
Selain penanganan langsung di lapangan, BPBD Kalsel juga berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau peluang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, operasi tersebut belum dapat dilakukan. Kondisi atmosfer saat ini dinilai belum mendukung untuk pelaksanaan OMC.
Pemantauan bersama BMKG tetap dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi atmosfer dan menentukan waktu yang memungkinkan jika OMC dapat dilaksanakan.
Langkah tersebut menjadi salah satu opsi untuk membantu penanganan Karhutla di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.(yan/fsl)
