| TARI :Sanggar Seni Suluh Banua Kabupaten Tabalong menampilkan Tari Njipah dalam Festival Karya Tari Daerah Kalsel 2026 di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin/foto:sanggar ssb |
BANUATODAY.COM,BANJARMASIN -Tari Njipah karya Sanggar Seni Suluh Banua itu mengantarkan Kabupaten Tabalong menjadi juara umum Festival Karya Tari Daerah (FKTD) Kalimantan Selatan (Kalsel) 2026.
Tari yang mengambil kisah tradisi berburu babi hutan masyarakat Dayak Deah memukau dewan juri dan gelar juara umum menjadi capaian bersejarah karena untuk pertama kalinya Tabalong meraih predikat tersebut di ajang seni tari tingkat Provinsi Kalsel.
Kemenangan itu sekaligus membawa Njipah ke panggung nasional. Karya tersebut akan mewakili Kalsel pada Parade Tari Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2026.
Di balik prestasi itu, Njipah tidak sekadar menyajikan koreografi. Karya ini mencoba menerjemahkan kehidupan masyarakat Dayak Deah, khususnya tradisi berburu babi hutan, ke dalam bahasa seni pertunjukan.
Nama Njipah merujuk pada jipah, perangkap jerat berbahan alam yang digunakan masyarakat dalam aktivitas berburu.
Selain jerat, tombak juga menjadi salah satu perangkat yang digunakan dalam tradisi tersebut.
Karya itu digagas dan dikonsep seniman muda M. Irfan Maulana atau Palui Banaran bersama Sanggar Seni Suluh Banua.
Proses kreatif dilakukan dengan menggali unsur tradisi Dayak Deah, mulai dari gerak, musik hingga aktivitas berburu.
Penggalian tradisi juga melibatkan tokoh Dayak Deah, Matuo Delis. Langkah tersebut dilakukan agar karya yang dikembangkan tidak sekadar mengambil bentuk budaya, tetapi tetap berpijak pada pengetahuan masyarakat pemilik tradisi.
“Njipah ini murni kami garap bersama teman-teman. Kami berusaha tetap berpijak pada akar dari tradisi Dayak Deah, mulai dari gerak, musik hingga tema berburu babi hutan,” ujar Palui Banaran Jumat, (11/9/2026).
Menurutnya, keterlibatan tokoh masyarakat menjadi bagian penting dalam proses penciptaan.
Dengan begitu, pengembangan karya tari tetap membawa nilai dan identitas budaya yang melekat pada tradisi Dayak Deah.
Tari Njipah mengusung tagline “Situ Poh Se Pajak Kaitn Gawi”. Karya tersebut dibina Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong dengan Gt. Judid Ihsan Permana sebagai penanggung jawab.
Penataan tari dilakukan Budi Anugerah dan Siti Soraya, sedangkan musik ditata Ersadi Ahmad Fadillah. Penataan busana dipercayakan kepada Shindi Tri Wignuo dan tata rias oleh Soraya.
Budi Anugerah Sakti mengatakan konsep koreografi Njipah disusun dengan menyesuaikan tema FKTD 2026, yakni “Nafas Bumi dan Laut”.
Menurut dia, tema tersebut memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat Dayak Deah yang memiliki hubungan erat dengan alam, terutama ekosistem hutan.
“Bagi masyarakat setempat, hutan bukan sekadar ruang geografis, tetapi menjadi tumpuan utama dalam menopang keberlangsungan hidup sekaligus menjaga keseimbangan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” jelas Budi.
Secara tematis, Njipah menggambarkan dinamika kehidupan seorang pemburu lokal yang masih menjalankan aktivitas berburu babi hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tantangannya adalah menerjemahkan aktivitas tersebut menjadi karya tari tanpa kehilangan konteks tradisinya sekaligus tetap sesuai dengan tema festival.
“Selain ide cerita, kami juga harus mengolah ketubuhan para penari, merancang kostum yang sesuai dengan garapan, serta melakukan riset lebih mendalam melalui narasumber,” kata Budi.
Riset tersebut menjadi bagian dari proses untuk memastikan Njipah tetap memiliki pijakan tradisi yang kuat dan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Dayak Deah di Tabalong.
Setelah kemenangan di tingkat provinsi, pekerjaan Sanggar Seni Suluh Banua belum selesai.
Njipah akan kembali dikembangkan sebelum tampil di Parade Tari Nusantara TMII 2026.
Sejumlah aspek, mulai dari koreografi, musik, artistik hingga penyajian, akan diperkuat agar karya tersebut lebih matang tanpa kehilangan akar budayanya.
“Kami akan melakukan pembenahan untuk dibawa ke tingkat nasional. Harapannya, Njipah tidak hanya menjadi karya yang berkompetisi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas pedalaman Kalsel,” kata Palui.
Ia berharap dukungan masyarakat dan para seniman Kalsel terus diberikan agar Njipah dapat tampil maksimal di tingkat nasional.
“Harapannya, tahun ini menjadi rezekinya Kalsel di tingkat nasional,” tuturnya.
Dalam FKTD Kalsel 2026, Sanggar Seni Suluh Banua juga meraih sejumlah penghargaan lain.
Budi berharap karya tersebut dapat menjadi pintu bagi masyarakat yang belum mengenal budaya Dayak Deah untuk melihat lebih dekat tradisi yang masih hidup di Tabalong.
“Melalui karya Njipah ini masyarakat luas, terutama mereka yang belum mengetahui budaya Dayak Deah, bisa mengenal tradisi berburu yang ada di Kabupaten Tabalong,” pungkasnya.(Yln/rdh)
